Banyak Jadi Pemimpin Kota-kota di Indonesia, Mengapa Diaspora Gorontalo Tidak Pernah Menjadi Kekuatan?

Banyak Jadi Pemimpin Kota-kota di Indonesia, Mengapa Diaspora Gorontalo Tidak Pernah Menjadi Kekuatan?

Oleh : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Founder The Gorontalo Institute)

 

Banyak orang Gorontalo berhasil menjadi wali kota di berbagai daerah di Indonesia. Namun, keberhasilan tersebut tidak pernah berkembang menjadi kekuatan kolektif yang terorganisir. Fenomena ini terlihat dari sejumlah nama seperti Syamsir Andili (Wali Kota Ternate 2000–2010), Udin Hianggio (Wali Kota Tarakan 2009–2014), Mochtar Mohamad (Wali Kota Bekasi 2008–2012), Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto (Wali Kota Makassar 2014–2019 dan 2021–2025), serta Syafrin Liputo (Wali Kota Jakarta Selatan periode terbaru), dan Abdul Harris Bobihoe sebagai Wakil Wali Kota Bekasi (2025–2030).

Jika dilihat sepintas, ini adalah keberhasilan diaspora. Namun jika dilihat lebih dalam, ini adalah keberhasilan yang berdiri sendiri. Tidak ada pola konektivitas antar figur, tidak ada jaringan kekuasaan lintas daerah, dan tidak ada kesinambungan pengaruh yang terbangun secara sistematis. Inilah paradoks utama diaspora Gorontalo.

Yang lebih menarik, pola ini tidak berubah dalam waktu lama. Dari periode 2000-an hingga sekarang, pola yang sama terus berulang: muncul individu kuat, tetapi tidak pernah terakumulasi menjadi kekuatan bersama. Ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah ini kegagalan, atau justru pilihan kultural yang tidak disadari?

Kapasitas Individu sebagai Penentu

Keberhasilan tokoh-tokoh tersebut tidak lahir dari jaringan etnis yang terorganisir, melainkan dari kapasitas individu. Jalur yang ditempuh beragam: birokrasi, politik lokal, dan profesional. Syamsir Andili dan Syafrin Liputo berasal dari birokrasi, Udin Hianggio, Mochtar Mohamad dan Abdul Harries Bobihoe dari politik lokal, sedangkan Danny Pomanto dari dunia profesional.

Dalam politik lokal, kemenangan ditentukan oleh elektabilitas, dukungan partai, dan kemampuan membangun koalisi. Tidak ada ruang besar bagi sentimen etnis sebagai faktor dominan. Karena itu, setiap tokoh harus membangun basisnya sendiri di wilayah masing-masing.

Namun di sinilah implikasinya: karena keberhasilan dibangun secara individual, maka ia tidak menghasilkan sistem. Tidak ada mekanisme replikasi keberhasilan, tidak ada pola kaderisasi, dan tidak ada kesinambungan kekuasaan berbasis jaringan diaspora. Akibatnya, setiap generasi memulai dari nol. Tidak ada akumulasi kekuatan, hanya pengulangan pola keberhasilan individu yang terpisah.

Moleleyangi: Pilihan Budaya atau Keterbatasan?

Fenomena ini berakar pada moleleyangi, yaitu tradisi merantau untuk mopehu atau memperbaiki kehidupan. Moleleyangi bukan sekadar mobilitas, tetapi pilihan sadar untuk berkembang secara individual di ruang baru.

Berbeda dengan mobite yang bisa terjadi karena keterpaksaan, moleleyangi bersifat aspiratif dan optimistik. Ia mendorong individu untuk beradaptasi dan berhasil secara personal, tetapi tidak secara otomatis mendorong pembentukan struktur kolektif.

Di sinilah kritik teoritik pada moleleyangi muncul: moleleyangi mungkin bukan sekadar budaya merantau, tetapi juga budaya individualisasi keberhasilan. Orientasinya adalah berhasil secara pribadi, bukan membangun sistem bersama. Jika ini terbukti, maka lemahnya konsolidasi diaspora bukan sekadar kelemahan, melainkan konsekuensi dari orientasi budaya itu sendiri.

Adaptif di Rantau, Lemah dalam Kelembagaan

Diaspora Gorontalo sangat adaptif. Mereka cepat menyatu dengan masyarakat lokal, membangun relasi, dan menavigasi struktur sosial yang ada. Ini adalah kekuatan utama yang menjelaskan keberhasilan individu. Namun, adaptasi ini justru mengurangi dorongan untuk membangun organisasi yang kuat. Individu merasa cukup berhasil di lingkungan masing-masing tanpa perlu membangun jaringan lintas daerah.

Organisasi seperti HPMIG, KKIG, dan LAMAHU memang ada, tetapi gagal bertransformasi menjadi institusi strategis. Kegiatannya cenderung seremonial, tidak memiliki output terukur, dan tidak menghasilkan kader strategis.

Masalahnya bukan hanya pada fungsi, tetapi juga pada struktur internal. Banyak organisasi menghadapi persoalan klasik: kepemimpinan yang lemah, tidak adanya akuntabilitas, serta fragmentasi antar kelompok. Ego sektoral dan minimnya visi jangka panjang membuat organisasi tidak berkembang.

Mengapa Diaspora Lain Lebih Kuat?

Perbedaan utama diaspora bukan pada individu, tetapi pada sistem. Minangkabau memiliki jaringan ekonomi nyata seperti rumah makan Padang yang menjadi tulang punggung jaringan. Batak memiliki sistem marga yang berfungsi sebagai jaringan sosial dan profesional. Bugis memiliki tradisi ekspansi yang mendorong penguasaan ruang ekonomi dan politik.

Ba’alawi bahkan lebih jauh dengan sistem berbasis nasab dan institusi keagamaan yang terorganisir. Mereka memiliki mekanisme regenerasi, distribusi peran, dan kesinambungan pengaruh.

Semua contoh ini menunjukkan satu hal: kekuatan diaspora lahir dari sistem yang menghubungkan individu. Tanpa sistem, individu hebat tetap menjadi individu, bukan kekuatan. Dalam konteks ini, diaspora Gorontalo tidak kekurangan orang hebat, tetapi kekurangan infrastruktur yang menghubungkan mereka.

Apa yang Harus Dilakukan?

Solusi tidak cukup dengan seruan umum seperti networking atau penguatan organisasi. Yang dibutuhkan adalah langkah konkret. Misalnya, membangun database diaspora Gorontalo nasional yang memetakan posisi, profesi, dan potensi kolaborasi.

Selain itu, perlu dibentuk forum profesional lintas kota yang menghubungkan politisi, birokrat, akademisi, dan pengusaha Gorontalo dalam satu ekosistem. Dari sini, mentoring dan transfer pengetahuan bisa berjalan secara sistematis.

Organisasi seperti HPMIG dan KKIG harus direstrukturisasi menjadi platform karier, bukan sekadar wadah silaturahmi. Harus ada target jelas: berapa kader yang masuk politik, berapa yang masuk birokrasi, dan bagaimana mereka didukung. Tanpa langkah konkret seperti ini, wacana penguatan diaspora akan tetap berhenti pada retorika.

Jika pola ini tidak berubah, diaspora Gorontalo akan terus menghasilkan individu hebat tanpa pernah menjadi kekuatan. Ini bukan soal kemampuan, tetapi soal pilihan: apakah tetap bertahan sebagai individu yang adaptif, atau mulai membangun sistem yang terhubung. Tanpa keterhubungan, diaspora hanya akan menjadi kumpulan cerita sukses. Dengan keterhubungan, ia bisa menjadi kekuatan yang benar-benar berpengaruh.

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *