Dulu Dandim Gorontalo, Kini Danrem 072/Pamungkas: Prestasi Brigjen Yuniar Masih Dikenang Warga

Dulu Dandim Gorontalo, Kini Danrem 072/Pamungkas: Prestasi Brigjen Yuniar Masih Dikenang Warga

Gorontalo, Kambungu.id – Pagi di Pinogu dulu selalu dimulai dengan perjuangan. Jalanan tanah yang licin saat hujan dan berbatu saat kemarau membuat perjalanan keluar desa bisa memakan waktu berjam-jam. Bagi warga, menuju pusat kabupaten bukan sekadar jarak—melainkan soal harapan yang terasa jauh.

“Dulu kalau mau ke kota, harus siap tenaga ekstra. Kadang berangkat subuh, sampai sore,” kenang seorang warga.

Di tengah kondisi itulah, perubahan mulai terasa. Bukan dari janji, melainkan dari kehadiran langsung di lapangan. Seorang perwira TNI datang, melihat, dan mendengar sendiri apa yang dialami masyarakat.

Namanya, Yuniar Dwi Hantono.

Saat menjabat sebagai Komandan Kodim (Dandim) 1304/Gorontalo pada periode 2014 hingga 2016, Yuniar tidak hanya menjalankan tugas militer secara formal. Ia hadir sebagai bagian dari solusi, turun langsung ke lapangan, berdialog dengan warga, dan memahami persoalan dari dekat.

Dari interaksi itulah lahir langkah besar yang hingga kini masih dikenang: mendorong pembukaan akses jalan menuju Desa Pinogu, Kabupaten Bone Bolango. Jalan yang sebelumnya sulit dilalui perlahan mulai terbuka, menghubungkan warga dengan pusat ekonomi, pendidikan, dan layanan publik.

Perubahan itu membawa dampak nyata. Hasil kebun lebih mudah dijual, mobilitas warga meningkat, dan anak-anak tak lagi harus menempuh perjalanan ekstrem untuk sekolah.

Namun, kiprah Yuniar di Gorontalo tidak berhenti pada pembangunan akses jalan.

Ia juga terlibat dalam program penghijauan kawasan Danau Limboto, dengan mendorong penanaman ribuan pohon bersama masyarakat dan pemerintah daerah. Upaya ini menjadi bagian dari langkah menjaga lingkungan yang saat itu mulai menghadapi ancaman kerusakan.

Di sektor lain, Yuniar turut menggerakkan program ketahanan pangan, mendorong masyarakat untuk meningkatkan produktivitas pertanian serta memperkuat kemandirian ekonomi lokal.

Pendekatan yang digunakan pun berbeda. Ia tidak sekadar memberi instruksi, tetapi hadir langsung, bekerja bersama, dan membangun kepercayaan. Hal inilah yang membuat hubungan antara TNI dan masyarakat terasa dekat.

Tak heran, dari kedekatan itu lahir sebutan yang tidak resmi namun penuh makna: “Pangdim.” Sebuah julukan dari warga Gorontalo yang mencerminkan rasa hormat sekaligus kedekatan emosional terhadap sosok Yuniar.

Cerita-cerita tentang kepemimpinannya pun masih sering terdengar hingga kini. Bagi masyarakat, ia bukan hanya seorang pejabat yang pernah bertugas, melainkan bagian dari perubahan yang mereka rasakan sendiri.

Hal itu juga diakui oleh Dr. Funco Tanipu, ST., M.A, yang saat itu menjabat sebagai Staf Khusus Wali Kota Gorontalo periode 2014–2018 dan beberapa kali berinteraksi langsung dengan Yuniar dalam kegiatan Forkopimda.

Menurut Funco, Yuniar adalah sosok pemimpin yang mampu menjembatani kerja lintas sektor dengan pendekatan yang konkret dan solutif.

“Pak Yuniar itu bukan hanya hadir sebagai Dandim, tapi sebagai bagian dari solusi. Dalam banyak kegiatan Forkopimda, beliau aktif, responsif, dan punya kepedulian nyata terhadap persoalan masyarakat. Itu yang membuat beliau berbeda dan mudah diterima,” ujar Funco.

Ia menambahkan, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat saat itu berjalan dengan baik dan menghasilkan dampak nyata.

“Sinerginya terasa sekali. Semua bisa duduk bersama dan bekerja untuk tujuan yang sama. Dan hasilnya memang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tambahnya.

Pengalaman memimpin di Gorontalo menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan karier Yuniar Dwi Hantono. Dari wilayah ini, ia melanjutkan pengabdiannya di berbagai posisi strategis di lingkungan TNI Angkatan Darat.

Seiring perjalanan karier tersebut, Yuniar kemudian menyandang pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI, menandai peralihan ke jajaran perwira tinggi.

Tonggak penting berikutnya datang pada 3 April 2026, saat ia resmi dilantik sebagai Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas dalam serah terima jabatan yang dipimpin Pangdam IV/Diponegoro di Makodam IV/Diponegoro.

Pelantikan tersebut menjadi bagian dari dinamika organisasi TNI AD dalam rangka penyegaran kepemimpinan sekaligus penguatan kinerja satuan di wilayah.

Kini, Yuniar mengemban tanggung jawab baru di Yogyakarta. Namun bagi masyarakat Gorontalo, namanya tidak sekadar tercatat dalam perjalanan jabatan militer.

Ia hidup dalam cerita-cerita tentang jalan yang terbuka, desa yang tak lagi terisolasi, dan program-program yang memberi dampak nyata.

Bagi sebagian orang, jabatan adalah tentang posisi. Tetapi bagi warga Gorontalo, kepemimpinan adalah tentang jejak.

Dan jejak itu, hingga hari ini, masih terasa.

Sumber Foto:

TNI AD : https://tniad.mil.id/danrem-131-pimpin-sertijab-dandim-1304-gorontalo/⁠�

Anrara Gorontalo : https://gorontalo.antaranews.com/berita/23527/wabup-bone-bolango-ikut-rakor-tmmd-di-jakarta⁠�

Humas Jogja : https://www.instagram.com/p/DW1PNJ7j-O1/?img_index=4&igsh=MTZveDBrZTJ4N2RmcQ==⁠

 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *