Paleleh, Buol — Perjalanan itu dimulai dari niat. Sabtu, 14 Februari 2026, lebih dari 60 jamaah Majelis Muhyin Nuufus berkumpul di TERAS MS & Café, Kota Gorontalo, sebelum berangkat tepat pukul 14.00 WITA menuju Paleleh, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.
Perjalanan darat selama berjam-jam tersebut bukan sekadar perpindahan tempat. Ia adalah perjalanan kesadaran—tentang sejarah, tentang perjuangan, dan tentang pentingnya menyambung silaturrahmi ruhiyah. Rombongan tiba di Paleleh pada pukul 00.30 WITA, dini hari yang sunyi, namun penuh semangat.
Ziarah ini merupakan arahan langsung dari Pembina Majelis Muhyin Nuufus, Ir. Al-Habib Muhamad Effendi Al-Eydrus, SH, MM, sebagai bentuk penghormatan terhadap para ulama dan tokoh yang berjasa dalam syiar Islam serta perjuangan melawan kolonial di wilayah Paleleh dan Buol secara khusus dan Sulawesi Tengah dan Indonesia Timur pada umumnya. Pesan beliau, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia Ustadz Demsi Anwar, sederhana namun dalam: jangan biarkan ingatan kita kering. Jangan jadikan sejarah sekadar cerita yang lewat, lalu hilang. Karena dari merekalah kita belajar tentang keberanian, kesabaran, dan cinta yang tidak bising.

Ziarah yang Menghidupkan Ingatan
Ahad pagi, pukul 09.00 WITA, rombongan melaksanakan ziarah ke Makam Habib Abdul Qodir Al-‘Aydrus, Habib Ahmad Al-‘Aydrus, dan Habib Hasan Al-‘Aydrus. Nama-nama ini tidak hanya dikenang sebagai tokoh agama, tetapi juga bagian dari mata rantai sejarah perjuangan masyarakat Paleleh dan Buol secara khusus dan Sulawesi Tengah dan Indonesia Timur pada umumnya.
Suasana di area makam berlangsung khidmat. Para jamaah menjaga adab, menundukkan pandangan, dan melantunkan doa dengan penuh ketenangan. Di sana, langkah-langkah diperlambat. Suara diturunkan. Handphone disimpan. Tidak ada “live”, tidak ada keramaian yang dipamerkan. Yang ada hanya doa—dan rasa hormat yang berusaha dijaga setenang mungkin. Pada pelaksanaan ziarah, bacaan Rotib yang diijazahkan oleh Habib Muhamad Effendi Al-Eydrus dipandu oleh Ustad Demsi Anwar dan Ustad Reza Adam.

Pada pukul 11.00 WITA, kegiatan dilanjutkan dengan Bacaan Rotib Al-‘Aydrus dan doa arwahan. Lantunan dzikir menyatukan hati-hati yang hadir, mempertegas bahwa ziarah adalah ruang refleksi, bukan seremoni. Bacaan Rotib dan Doa Arwahan untuk keluarga yang telah berpulang dan meninggal dunia, dipandu oleh Ustad Sudirman Sungo dan Ustad Alqishos Yusuf. Pelaksanaan bertempat di kediaman tokoh masyarakat Paleleh Sayyid Anwar Alaydrus atau dikenal dengan nama Aba Nunu.

Pesan Pembina Majelis Muhyin Nuufus : Jangan Lupakan Jasa Para Pendahulu
Ketua Panitia, Ustadz Demsi Anwar, menyampaikan pesan dari Pembina Majelis bahwa ziarah ini bukan sekadar kunjungan spiritual.
“Habib berpesan agar kita tidak melupakan jasa para ulama dan pejuang, khususnya di Buol, yang pada masa kolonial telah berjuang menjaga agama dan kehormatan umat. Ziarah ini adalah bentuk penghormatan dan pengingat agar generasi sekarang tidak tercerabut dari sejarahnya,” ujar Demsi.
Menurutnya, Habib Muhamad Effendi Al-Eydrus menekankan bahwa menghargai jasa para pendahulu adalah bagian dari menjaga identitas umat. “Kalau kita melupakan sejarah, kita akan kehilangan arah. Maka ziarah ini adalah cara kita menyambung ingatan, menghormati perjuangan, dan mengambil teladan,” lanjutnya.
Dari Doa ke Kepedulian Sosial
Kegiatan tidak berhenti pada aspek ruhiyah. Ba’da sholat Dzuhur, pukul 12.30 WITA, Lembaga Seni Pernafasan Melati Suci menghadirkan program TERAPI SEHAT MELATI SUCI di Aula Kantor Desa Paleleh, Kecamatan Paleleh, Kabupaten Buol.
Layanan yang diberikan meliputi bekam, terapi urat, terapi sendi/tulang, dan terapi syaraf. Warga sekitar tampak antusias. Beberapa datang dengan keluhan kesehatan, sebagian lagi hadir untuk bersilaturrahmi.
Di sela-sela layanan, suasana terasa akrab. Jamaah membantu, tim terapi yang terdiri dari Ustad Bangun Mulya, Ustad Yamin Ali, Ustad Alqishos Yusuf , Ustad Yadi Mulyadi serta Ustadzah Tya Ibrahim bekerja dengan tertib, dan warga menyambut dengan hangat. Dakwah hadir bukan hanya melalui mimbar, tetapi melalui pelayanan nyata.
“Habib juga berpesan agar setiap perjalanan dakwah membawa manfaat sosial. Spritual harus berjalan bersama khidmah. Kita berdoa, tapi juga melayani melayani masyarakat,” kata Ketua Lembaga Seni Pernafasan Melati Suci, Ustad Yamin Ali.
“Habib juga berpesan,” lanjut Ustad Yamin, “dzikir itu menguatkan hati. Tapi kepedulian sosial itu menguatkan persaudaraan. Kita datang membawa doa, dan pulang harus membawa tanggung jawab untuk terus berbuat baik.”
Pulang dengan Harapan Kesadaran Baru
Menjelang senja, rombongan bersiap kembali ke Gorontalo ba’da Maghrib. Perjalanan pulang terasa berbeda. Ada keheningan yang lebih dalam, ada kebersamaan yang lebih erat.
Ziarah Paleleh bukan hanya tentang mendatangi makam. Ia menjadi ruang untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif—tentang perjuangan ulama dan pejuang era kolonial, tentang pentingnya menjaga adab, serta tentang dakwah yang menyatu dengan pelayanan sosial.
Sekretaris Majelis Muhyin Nuufus Gorontalo, Salahudin Olii, ST., MT menjelaskan bahwa bagi Majelis Muhyin Nuufus, perjalanan ini adalah pengingat bahwa sejarah harus dihormati, ruhiyah harus dijaga, dan kepedulian sosial harus terus dihidupkan. Bagi sebagian orang, makam adalah ujung perjalanan. Tetapi bagi jamaah Majelis Muhyin Nuufus sebagaimana arahan Pembina Majelis Ir. Al-Habib Muhamad Effendi Al-Eydrus., SH., MM.,, makam justru awal: awal untuk mengingat bahwa hidup ini singkat, dan kebaikan para pendahulu tidak boleh berakhir menjadi nama tanpa makna.
Ziarah ini mengajarkan satu hal: bahwa menghargai jasa para ulama dan pejuang adalah bagian dari menjaga jati diri. Bahwa doa adalah cara kita menyambung yang terputus. Dan bahwa khidmah—sekecil apa pun—adalah wujud kepedulian yang paling nyata.
Paleleh telah menjadi saksi: di antara makam dan aula desa, di antara rotib dan terapi, Majelis Muhyin Nuufus pulang membawa satu bekal—ingatan yang hidup, dan hati yang lebih lapang penuh keberkahan.
