Gorontalo bukan saja tempat lahir dan tinggal, Gorontalo adalah sebuah amanah.
Oleh : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Founder The Gorontalo Institute)
Kita memperingati 23 Januari, tetapi sering kali kita tidak benar-benar menghidupinya. Kita mengenang nama dan tanggalnya, namun perlahan kehilangan nilai yang seharusnya menjadi kompas moral. Itulah sebabnya pertanyaan ini penting diajukan: mengapa kita mulai lupa pada 23 Januari 1942, bahkan ketika kita mengaku bangga padanya?
Apakah ada harga patriotisme yang dipraktikkan Nani Wartabone, Kusno Danupoyo, Pendang, dan Sagaf Alhasni pada 84 tahun silam, 23 Januari 1942? Hampir tak ada bandingan. Harga patriotisme mereka melebihi apa pun yang dapat diukur dengan ukuran duniawi. Karena yang mereka pertaruhkan bukan sekadar kenyamanan hidup, melainkan kebebasan, martabat, dan hak sebuah masyarakat untuk menentukan nasibnya sendiri.
Yang mengkhawatirkan hari ini bukan semata kita lupa fakta sejarah, melainkan kita kehilangan kemampuan meneladani nilai, sehingga 23 Januari 1942 menyusut menjadi seremoni, bukan kompas moral. Kita seakan cukup dengan mengulang peringatan, padahal peringatan tanpa keteladanan hanya akan melahirkan kebanggaan kosong.
Komite 12 yang menjadi tulang punggung gerakan 23 Januari 1942 adalah potret keberagaman Indonesia. Ada Gorontalo, Jawa, Arab, Cina, Minahasa, dan etnis lainnya. Ada Islam, Buddha, Kristen, dan Konghucu. Patriotisme 1942 adalah energi kebaikan untuk republic yang tidak membedakan ras, agama, apalagi golongan.
Tetapi patriotisme itu bukan pidato dan gegap gempita semata. Ia dibayar mahal. Nani, Kusno, dan Pendang menanggung jeruji besi: Nani dihukum 15 tahun, Kusno 7 tahun, Pendang 9 tahun. Penjara kolonial, siksaan, dan penderitaan menjadi ongkos nyata dari sebuah keberanian.

Karena itu perlu diingat: 23 Januari 1942 bukan pesta pora. Ia bukan hanya upacara, film, patung, atau perayaan pendek. Ada air mata, ada darah, ada jeruji besi, ada pukulan bedil, ada pengasingan. Ada luka yang disimpan rapat oleh para pejuang dan keluarga mereka.
Namun hari ini 23 Januari sering kita perlakukan seperti seonggok barang: sekadar lewat. Ia hanya story Instagram dan WhatsApp yang berusia 60 detik. Setelah itu berlalu bersama angin seakan tak meninggalkan pelajaran apa pun. Di situlah lupa bekerja: sejarah dipendekkan, pengorbanan diperingan, lalu teladan hilang.
Jika teladan hilang, ruang publik kehilangan ukuran moral. Maka tak heran bila kita mudah tenggelam dalam kebencian antar sesama: saling meniadakan, saling menggergaji, saling melukai. Tanpa nilai kepahlawanan yang benar-benar kita hayati, “kita” berubah menjadi “aku”, dan “aku” sering lebih suka menang sendiri daripada menjaga persaudaraan.
Pahlawan Imajinatif
Di ruang anak-anak dan kaum muda, amnesia kepahlawanan makin mudah terjadi. Bukan karena mereka “buruk”, melainkan karena mereka hidup dalam arus cerita yang jauh lebih kuat dan terus diulang. Mereka dijejali pahlawan imajinatif yang dikemas spektakuler, instan, dan memuaskan.
Tokoh-tokoh Marvel dan DC menjadi rujukan: Iron Man, Captain America, Thor, Spider-Man, X-Men, Hulk, Avengers, Black Panther, Superman, Batman, Wonder Woman, dan lainnya. Pahlawan fiksi hadir sebagai narasi hidup, penuh aksi, penuh efek visual, dan menghibur.
Sementara pahlawan nyata sering hadir sebagai nama jalan, patung diam, atau teks buku yang kering. Ketika sejarah tidak diperlakukan sebagai pengalaman yang menyentuh, wajar jika ia kalah dari fiksi yang terus menerus diproduksi ulang dan disebarkan. Persoalannya bukan pada budaya populer, tetapi pada kegagalan kita mengemas kepahlawanan lokal sebagai warisan yang bermakna dan dekat.
Pahlawan “Salon Politik”
Di kalangan yang lebih dewasa, problemnya berbeda. Memori kepahlawanan tidak hilang total, tetapi terdesak oleh pahlawan baru hasil produksi panggung. Citra menggantikan proses. Viral menggantikan kerja. Kemasan menggantikan keteladanan.
Modal rupiah membeli “space” di media dan membiayai “salon politik” melahirkan tokoh-tokoh yang diagung-agungkan tanpa jejak pengorbanan yang nyata. Banyak orang lebih suka kisah turun ke got dan marah-marah di depan kamera, dibanding mengingat pahlawan yang tewas digantung, ditebas, diasingkan, dan dipenjara.
Kita hidup dalam ekonomi politik: yang viral menang, yang sunyi dilupakan termasuk pahlawan yang benar-benar berdarah. Jika ini dibiarkan, kita akan kehilangan arah secara kolektif: menjadi masyarakat yang mudah terpesona oleh yang cepat, tetapi miskin kedalaman moral dan rapuh menghadapi ujian sosial.
Pahlawan: Bukan “Aku”, Tapi “Kita”
Pahlawan sejati bukan mereka yang meminta dihargai dan selalu merujuk pada dirinya, melainkan mereka yang bekerja untuk sesama tanpa pamrih. Dalam kepahlawanan, “tak ada aku”; yang ada adalah “kita”. Kepahlawanan tidak membutuhkan panggung; ia membutuhkan keberanian untuk menanggung konsekuensi.
Mereka yang ditakdirkan menjadi pahlawan telah melakukan pengorbanan atas nama cinta: cinta tanah air dan cinta kepada Tuhan. Tidak ada lagi “aku” dalam diri mereka. Mereka membuktikannya dengan air mata, harta, dan darah. Kita hanyalah penikmat dari pengorbanan itu, maka penghormatan yang paling pantas bukan sekadar seremoni, melainkan menjadikan nilai mereka sebagai etika hidup.
Menuju Satu Abad Gorontalo 2042: Warisan yang Harus Kita Tinggalkan
Kini kita berdiri di ambang waktu yang menentukan: 23 Januari 2042 tinggal 16 tahun lagi sejak 23 Januari 2026. Seratus tahun bukan sekadar angka bulat; ia ukuran kedewasaan sebuah masyarakat dalam merawat ingatan dan mengubahnya menjadi tindakan. Jika 1942 adalah keberanian merebut martabat, maka 2042 harus menjadi keberanian menjaga martabat itu agar tidak rapuh oleh kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan kebencian sosial.
“Menuju Satu Abad Gorontalo” adalah panggilan untuk menyusun warisan. Warisan bukan patung, bukan slogan, bukan pula perayaan singkat. Warisan adalah kualitas institusi dan karakter sosial yang kita tinggalkan bagi generasi 2042. Pertanyaannya sederhana tetapi menohok: apakah kita sedang menambah atau justru mengurangi makna pengorbanan para pejuang 1942?
Enam belas tahun menuju 2042 singkat bila kita menunda, tetapi cukup panjang bila kita memulai sekarang. Pertaruhan terbesar bukan apakah kita mampu membuat peringatan meriah, melainkan apakah kita sanggup melahirkan generasi yang tidak amnesia, generasi yang tahu kemerdekaan pernah ditebus dengan penjara dan siksaan, lalu menerjemahkannya menjadi kerja, disiplin, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Jika kita ingin 2042 menjadi warisan, bukan sekadar perayaan, maka 23 Januari harus masuk ke ruang belajar, ruang keluarga, dan ruang kebijakan, bukan hanya ke panggung seremonial. Jadikan ia momentum pendidikan publik: membaca ulang sejarah, menguatkan literasi, dan menumbuhkan etika sosial sejak dini. Sepakati agenda warisan 2042: integritas dalam pemerintahan, solidaritas lintas identitas, serta keberanian menolak kebencian sebagai budaya.
Al-Fatihah untuk seluruh pahlawan yang tercatat dan tidak tercatat. Semoga kita bisa meneladani itu semua, terutama keteladanan dari para pejuang 1942.
(Sumber: Koran Nederlandsche Dagbladpers, 27 September 1949)

