The Gorontalo Institute The Gorontalo Institute bekerja sama dengan Majelis Muhyin Nuufus Gorontalo akan menyelenggarakan Gorontalo Ramadan Forum 2026 dengan tema “Religiusitas dan Kemajuan: Refleksi 500 Tahun Islam di Gorontalo”. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Jum’at, 13 Maret 2026 pukul 21.00–23.00 WITA melalui platform Zoom Meeting dan terbatas untuk 100 peserta.
Forum ini diselenggarakan sebagai ruang refleksi intelektual untuk membaca kembali perjalanan panjang Islam di Gorontalo yang telah berlangsung lebih dari lima abad. Selama periode tersebut, Islam tidak hanya menjadi agama yang dianut masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi moral yang membentuk tradisi sosial dan budaya masyarakat. Namun demikian, forum ini juga ingin membuka ruang dialog mengenai hubungan antara religiusitas masyarakat dengan dinamika sosial, termasuk tantangan dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kepemimpinan sosial.

Kegiatan ini akan dibuka oleh Dr. Funco Tanipu, ST., M.A, Founder The Gorontalo Institute. Dalam forum ini, sejumlah tokoh agama dan akademisi akan hadir untuk memberikan perspektif yang beragam mengenai pengalaman historis dan sosial Islam di Gorontalo.
Salah satu pembicara adalah KH. Abdullah Aniq Nawawi, Lc., M.A, Pengurus Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Pimpinan Pondok Salafiyah Syafiiyah Randangan, Pohuwato dan Katib Syuriah PWNU Gorontalo. Ia merupakan alumni Universitas Abdul Malik Asa’di, Tetouan, Maroko, dan aktif dalam pengembangan kajian fiqh serta tradisi keilmuan pesantren.
Forum ini juga menghadirkan KH. Ahmad Dimyati Suyuti, Pengurus Pusat Majelis Muhyin Nuufus. Selama ini ia aktif mengembangkan jaringan Majelis Muhyin Nuufus di berbagai daerah di Indonesia, antara lain di Tegal dan Purwokerto (Jawa Tengah), Bogor, Bandung, dan Bekasi (Jawa Barat), Pringsewu dan Metro (Lampung), Pontianak dan Kubu Raya (Kalimantan Barat), serta Palembang (Sumatera Selatan). Melalui majelis tersebut, ia mengembangkan kegiatan pengajian dan pembinaan spiritual di tengah masyarakat.
Sementara itu, Adli Al-Qarni, S.E., Lc., M.A., M.Sc, seorang putra Gorontalo yang saat ini menempuh studi doktoral sebagai PhD Researcher di Al-Qarawiyyin University of Fez, Maroko, akan berbagi perspektif mengenai pemikiran Islam dan pengalaman intelektual di dunia Islam global.
Pembicara lainnya adalah Dr. Umarulfaruq Abubakar, Lc., M.H.I, putra Gorontalo yang merupakan alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Saat ini ia menjadi Pengasuh PPTQ Ibnu Abbas Klaten, Jawa Tengah sekaligus Ketua Forum Ma’ahid Qur’an Indonesia, dan aktif dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an serta jaringan pesantren tahfiz di Indonesia.
Selain itu hadir pula Mohammad Makmun Rasyid, S.Ud., M.Ag, putra Gorontalo yang menempuh pendidikan strata satu (S1) di Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok pada Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, serta melanjutkan studi strata dua (S2) di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta pada program studi yang sama. Ia saat ini menjadi Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) periode 2025–2030.
Dari kalangan akademisi, hadir Dr. Momi Hunowu, M.Si, Dosen Sosiologi Agama di IAIN Sultan Amai Gorontalo yang merupakan alumni Program Doktor Antropologi Universitas Hasanuddin. Ia banyak meneliti hubungan antara agama, masyarakat, dan perubahan sosial di berbagai komunitas.
Diskusi ini akan dipandu oleh Difa Amalia Dude, S.EI., M.SEI, Social Business Worker sekaligus Manajer Riset The Gorontalo Institute.
Dalam forum ini, para narasumber akan mendiskusikan berbagai isu penting, mulai dari refleksi perjalanan lebih dari lima abad Islam di Gorontalo serta bagaimana tradisi religius tersebut membentuk identitas sosial masyarakat. Selain itu, forum ini juga akan mengkaji hubungan antara religiusitas masyarakat dengan dinamika sosial kontemporer, termasuk sejauh mana nilai-nilai Islam berperan dalam membangun etika sosial, kepemimpinan publik, dan solidaritas sosial. Diskusi juga akan menyinggung berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat religius, seperti kesenjangan ekonomi, kualitas pendidikan, dan dinamika budaya politik.
Momentum Ramadan dipandang sebagai kesempatan penting untuk merefleksikan kembali bagaimana nilai-nilai spiritual dapat menjadi energi moral bagi transformasi sosial dan kemajuan masyarakat. Melalui forum ini, penyelenggara berharap dapat mendorong dialog yang reflektif dan konstruktif antara tokoh agama, akademisi, dan masyarakat dalam membaca kembali perjalanan panjang Islam di Gorontalo sekaligus merumuskan arah masa depan yang lebih progresif.

