Oleh : Funco Tanipu (Wakil Ketua PWNU Provinsi Gorontalo)
Pada Hari Santri 22 Oktober tahun ini, patut kita bertanya, siapakah yang disebut Santri? Apakah santri adalah mereka yang pernah duduk di bangku pesantren?
Menurut KH Said Aqil Siroj, santri adalah mereka yang menerima ajaran-ajaran dari para Kiai, Habaib, dan Syekh. Dari pada guru tersebut ilmu yang ditransfer terhubung sampai Rasulullah SAAW.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), santri adalah (1) orang yang mendalami agama Islam; (2) orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; (3) orang yang mendalami pengajian dalam agama Islam kepada Guru (Kyai, Habaib, Syekh).
Clifford Geertz, seorang antropolog ternama, menduga jika kata santri berasal dari bahasa Sansekerta ‘shastri’, yang berarti yang pandai menulis, yang artinya cukup luas menulis dalam kertas atau bisa juga menulis dalam batin.
Nurholis Madjid menyebutkan jika asal kata Santri dari bahasa Sansekerta “cantrik” atau orang yang selalu mengikuti Guru.
Jadi, jika disederhanakan bahwa “tak akan ada status santri jika tak ada guru”, Kata kuncinya adalah guru. Namun, syarat seorang Guru adalah memiliki ilmu yang sanadnya (silsilah keilmuan) tersambung hingga kepada Nabi Muhammad SAAW.
Santri pun tak harus selalu cerdas. Hal itu bisa kita simak dari kisah Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al Buwaithi. Setiap kali gurunya menyampaikan pelajaran, al Buwaithi sering tidak paham dengan apa yang diajarkan, bahkan gurunya harus mengulang pelajaran hingga 40 kali. Bahkan gurunya harus mengejar ke rumahnya untuk mengulang pelajaran pada muridnya tersebut.
Hingga pada ujungnya Al Buwaithi wafat dan mendapat kesan indah dari gurunya ; “Tidak ada seorangpun di antara muridku yang lebih berilmu dari Al Buwaithi”.
Soal hapal menghapal Al Buwaithi memang tidak lebih dari murid lainnya, namun ia dikenal dengan kejujurannya, dengan akhlaknya. Hingga gurunya berkesan padanya.
Gurunya tersebut tak lain adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, yang kita lebih kenal dengan Imam Syafii.
Imam Syafi’i pun menjadi seorang yang besar seperti itu bukan lahir tanpa bimbingan guru. Pada muasalnya ia adalah seorang santri. Ia adalah santri yang karena mampu bertahan dan taat pada gurunya, ia dikaruniai kemuliaan ilmu yang luas.
Di antara guru Imam Syafii yang paling masyhur (terkenal) adalah Imam Malik, Imam Sufyan bin Uyainah, dan Imam Muslim bin Khalid Az-Zanji. Adapun guru beliau yang bernama Imam Malik, yang merupakan murid dari Rabiah bin Abi Abdirrahman dari Anas bin Malik.
Imam Malik juga merupakan murid dari Nafi’ bin Ibnu Umar. Yang mana kedua sahabat Nabi tersebut belajar langsung dari Rasulullah SAW. Sedangkan guru beliau yang bernama Imam Sufyan bin Uyainah adalah murid dari Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar dari Rasulullah SAW.
Guru beliau yakni Imam Muslim bin Khalid Az-Zanji adalah murid dari Ibnu Juraij dari Atho’ bin Abi Rabah dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas juga mengambil ilmu dari Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit. Sehingga secara sanad, seluruh guru Imam Syafii mengambil ilmu langsung bersumber kepada Rasulullah SAW.
Lalu bagaimanakah mengetahui seorang Guru memiliki silsilah keilmuan yang bersambung kepada Nabi?
Saya melampirkan foto silsilah sanad yang dari santri (saya) lalu ke Guru yang keilmuannya hingga pada Nabi. Terlihat bahwa bagaimana sanad itu bersambung hingga pada Baginda Nabi.

Lalu bagaimana bisa mengetahui otentikasi dari sanad itu. Otentikasi itu menjadi kewenangan dari Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah (atau disingkat Jatma Aswaja). Jatma Aswaja saat ini dipimpin oleh Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat agar kita sekalian beroleh keberkahan.🤲🤲🤲
