Oleh:Mohamad Pakaja
Tulisan Funco Tanipu tentang Dari Polango Menuju Moolango: Ramadan Sebagai Jalan Kesadaran Orang Gorontalo adalah esai yang indah sekaligus tertata. Funco tidak sekadar berbicara tentang puasa sebagai praktik keagamaan, tetapi menelusuri jejak maknanya dalam bahasa Gorontalo.
Dari polango sebagai kekurangan hingga moolango sebagai kejernihan, Funco membaca ramadan sebagai perjalanan batin yang telah lama berdiam dalam kosakata sehari-hari.
Lihatlah bagaimana ia mengurai ila, monga, morijiki, hingga butuhu memperlihatkan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga penyimpan pandangan hidup. Seakan-akan dalam bunyi-bunyi itu telah tersedia peta untuk memahami gerak manusia dari dorongan kebutuhan menuju kesadaran yang lebih jernih.
Tulisan itu kuat karena menunjukkan kemungkinan terdalam dari tradisi. Dalam tulisannya Funco menghadirkan Ramadan bukan sekadar sebagai ibadah tahunan, melainkan sebagai struktur kesadaran yang tertanam dalam kebudayaan.
Namun setelah membacanya, muncul satu pertanyaan yang tidak bisa saya abaikan. Apakah perjalanan dari polango menuju moolango itu benar-benar menjadi pengalaman semua orang Gorontalo setiap Ramadan?
Berangkat dari pertanyaan itu, saya teringat masa kecil saya sendiri. Dimana sya belajar berpuasa bukan karena dorongan refleksi, melainkan karena tuntutan orang tua. Kala itu puasa diperkenalkan sebagai kewajiban yang harus dijalankan. Tidak banyak ruang untuk memahami, apalagi mempertanyakan. Saya menjalankannya karena memang demikianlah seharusnya.
Lalu dalam pengalaman itu, lapar bukan jalan menuju kejernihan. Sebaliknya ia menjadi semacam latihan ketahanan. Pun bebrbuka bukan peristiwa batin yang hening, melainkan momen yang ditunggu dengan antusias. Sebagai anak yang “belajar”, tentu saja saya mengikuti ritme Ramadan sebagaimana banyak anak mengikuti disiplin keluarga. Patuh lebih dulu, mengerti kemudian. Dan itu manusiawi.
Puasa memang ibadah. Namun ibadah menemukan kedalamannya ketika ia dijalani dengan kesadaran, bukan semata kepatuhan. Ia bertumbuh ketika seseorang memilih untuk memaknainya, bukan hanya melaksanakannya.
Di sinilah saya melihat jarak antara kemungkinan makna dalam bahasa dan pengalaman nyata dalam kehidupan sosial.
Bahasa mungkin saja menyimpan kedalaman. Tradisi boleh saja menyediakan arah. Tetapi keduanya tidak langsung otomatis menjelma kesadaran personal. Toh tidak semua orang bergerak dari polango menuju moolango dalam satu garis lurus yang sama. Ada yang tiba melalui perenungan panjang. Ada yang menemukan maknanya setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas. Ada pula yang masih berada pada tahap sekadar menunaikan kewajiban, tanpa refleksi yang mendalam.
Barangkali justru di situlah letak keterusterangan kita – mengakui bahwa kesadaran itu bukan warisan otomatis dari budaya. Ia tidak lahir hanya karena seseorang berada dalam lingkungan yang sama, menggunakan bahasa yang sama, atau menjalani ritual yang sama. Melainkan melewati proses yang personal, sering kali lambat dan tidak jarang berliku pula.
Saya tidak menolak bahwa dari polango bisa lahir moolango. Saya justru melihatnya sebagai kemungkinan yang indah. Namun tetap saja kemungkinan tidak sama dengan kepastian. Budaya dapat menunjukkan arah, tetapi langkah tetap milik masing-masing. Bahasa dapat menawarkan peta, tetapi perjalanan tetap harus ditempuh secara sadar. Ramadan menyediakan ruang untuk itu. Ia memperlambat ritme, memberi jeda, dan menghadirkan kesempatan untuk melihat kembali sebab dan akibat dalam kehidupan kita. Tetapi ia tidak memaksa siapa pun untuk sampai pada kejernihan. Ia membuka pintu—sementara keputusan untuk masuk sepenuhnya ada pada diri setiap orang.
Jika ada orang Gorontalo yang menemukan kejernihan melalui lapar yang dijaga dengan sadar, itu adalah keindahan yang patut dirayakan. Namun jika ada yang masih menjalaninya sebagai kebiasaan yang perlahan dipahami, itu pun bagian dari perjalanan manusia.
Dengan kata lain, Funco memang orang Gorontalo, dan tulisannya memperlihatkan salah satu kemungkinan paling jernih dari tradisi itu. Tetapi orang Gorontalo tidak pernah tunggal. Tidak semua mengalami Ramadan dengan struktur makna yang sama. Tidak semua bergerak dari lapar menuju kesadaran dalam pola yang identik.
Budaya memang menyediakan bahasa. Namun pengalaman tetap milik pribadi.
Karena itu, yang perlu kita jaga bukanlah keseragaman tafsir, melainkan ruang bagi tiap orang untuk menemukan maknanya sendiri. Kesadaran tidak lahir dari klaim kolektif, melainkan dari perjumpaan yang jujur antara diri semdiri dan yang sedang dijalani.
Sebab pada akhirnya, kesadaran tidak pernah seragam. Ia tumbuh dalam waktunya sendiri.
Puasa tetap ibadah. Sebaliknya ibadah yang matang bukan sekadar dijalankan melainkan dipilih. Dan pilihan, tidak pernah bisa dipukul rata.
Salam.

