Oleh : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Founder The Gorontalo Institute, Ketua Majelis Muhyin Nuufus Gorontalo)
Setiap Ramadan, umat Islam menahan lapar. Namun bagi orang Gorontalo, lapar bukan sekadar sensasi biologis. Ia disebut polango—keadaan kurang yang justru menjadi alasan bergerak. Dalam pengalaman sehari-hari, orang tidak bekerja karena kenyang, tetapi karena lapar. Lapar membuat orang turun ke ladang, melaut, berdagang, dan menghidupkan relasi sosial. Tanpa polango, tidak ada dorongan. Kekurangan adalah energi awal kehidupan.
Dalam skala yang lebih luas, peradaban pun lahir dari polango. Pertanian berkembang karena manusia perlu memastikan pangan. Perdagangan muncul karena kebutuhan saling melengkapi. Gotong royong tumbuh karena orang menyadari bahwa ia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendirian. Kekurangan melahirkan kerja, kerja melahirkan keteraturan. Dengan demikian, polango bukan kelemahan, melainkan sumber dinamika sosial.
Ramadan menghadirkan polango secara sadar dan teratur. Lapar yang biasanya dihindari justru dipelihara sepanjang hari. Kekurangan tidak langsung dipenuhi. Dalam keadaan ini, manusia diingatkan bahwa hidupnya bergantung pada sebab-sebab di luar dirinya. Ia tidak cukup dengan dirinya sendiri. Lapar menjadi pengakuan paling dasar atas keterbatasan itu.
Menariknya, dalam bahasa yang sama terdapat kata moolango, yang berarti jernih. Perubahan satu bunyi dari polango ke moolango menggambarkan arah perjalanan: dari kekurangan menuju kejernihan. Jika polango adalah alasan gerak, maka moolango adalah tujuan gerak yang terarah. Ramadan menyediakan ruang untuk mengubah dorongan lapar menjadi kesadaran yang jernih.
Perjalanan itu berlangsung melalui makan. Dalam bahasa Gorontalo, makan disebut monga. Objeknya adalah ualo, makanan secara umum, dan secara khusus ila, nasi sebagai makanan pokok. Ila menempati posisi sentral. Tanpa ila, seseorang merasa belum benar-benar makan. Ia adalah fondasi pangan.
Karena kedudukannya itu, ila dipahami sebagai sebab hidup. Bunyi ila beresonansi dengan ‘illah, yang berarti sebab. Hidup berlangsung melalui sebab-sebab. Tubuh bertahan karena ada yang menopangnya. Dalam kerangka ini, ila adalah sebab material yang menjaga keberlangsungan hidup sehari-hari.
Ketika seseorang berada dalam polango, ia terdorong menuju ila. Lapar menggerakkan, dan ila menjawab gerak itu. Namun Ramadan tidak hanya berbicara tentang pemenuhan kebutuhan. Ia mengajarkan bagaimana menerima sebab hidup dengan kesadaran. Di sinilah perbedaan antara monga dan morijiki menjadi penting.
Monga adalah makan sebagai aktivitas biasa. Morijiki adalah makan dalam kesadaran menerima rezeki. Keduanya memakan objek yang sama—ualo atau ila. Namun dalam morijiki, makan tidak berhenti pada pengisian perut. Ia menjadi pengakuan bahwa sebab hidup itu adalah pemberian. Lapar sepanjang hari membuat momen berbuka tidak lagi netral. Ia menjadi peristiwa yang disadari.
Pada titik ini pula terdapat ujian. Dorongan yang kuat setelah menahan diri bisa berubah menjadi mohundoo, makan berlebihan tanpa kendali. Ramadan justru melatih agar dorongan itu tidak dibiarkan liar. Ia mengajarkan keseimbangan: cukup, tidak berlebihan, tidak kurang.
Setelah makan, manusia mencapai butuhu. Kata ini berasal dari butu, yang berarti tumbuh. Kenyang bukan sekadar penuh, tetapi keadaan cukup yang memungkinkan pertumbuhan. Gerak yang didorong oleh polango mencapai stabilitas pada butuhu. Namun stabilitas ini bukan akhir perjalanan.
Di dalam kata butuhu terdapat unsur “hu”. Unsur yang sama hadir dalam kata-kata seperti mohuwalo dan mongalimumuh, yang berkaitan dengan membersihkan sebelum dan sesudah makan. Dalam kesadaran spiritual, “Hu” dikenal sebagai penyebutan bagi Allah. Kehadiran bunyi itu mengingatkan bahwa pertumbuhan dan kecukupan tidak berdiri sendiri. Ia selalu terhubung pada sumber hidup.
Dengan demikian, struktur makan orang Gorontalo membentuk rangkaian yang utuh. Polango menjadi alasan gerak. Gerak itu menuju ila sebagai sebab hidup. Makan dapat menjadi sekadar monga atau naik menjadi morijiki. Kenyang mencapai butuhu. Dan jika seluruh proses dijalani dengan kesadaran, hasilnya adalah moolango.
Ramadan, dalam konteks ini, bukan sekadar menahan makan. Ia adalah latihan mengelola energi kekurangan agar tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan, tetapi bergerak menuju kejernihan. Lapar memang alasan bergerak, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar kenyang. Tujuannya adalah kesadaran.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, orang sering bergerak dari satu kebutuhan ke kebutuhan lain tanpa jeda refleksi. Lapar segera dipenuhi. Kenyang segera dilupakan. Tidak ada ruang untuk memahami sebab hidup. Ramadan memutus siklus itu. Ia memperlambat ritme. Ia menempatkan polango sebagai guru.
Dari polango menuju moolango, orang Gorontalo menemukan bahwa kekurangan bukan sekadar penderitaan, melainkan awal dari kesadaran. Lapar menggerakkan, makan menstabilkan, kesadaran menjernihkan. Jalan itu sederhana, tetapi mendasar. Dan di dalam bahasa sehari-hari—ila, butu, hu—tersimpan pengingat bahwa hidup bergerak melalui sebab-sebab yang pada akhirnya bersumber pada Yang Maha Memberi.
Ramadan, dengan demikian, bukan hanya ibadah tahunan. Ia adalah jalan kesadaran yang mengajarkan bahwa dari kekurangan dapat lahir kejernihan, dan bahwa setiap suapan ila bukan sekadar pengisian perut, melainkan pengakuan bahwa hidup tidak berdiri sendiri.

