Oleh : Dr. Funco Tanipu., ST., M.A (Founder The Gorontalo Institute)
Dalam 10 tahun terakhir, partai Nasdem bergerak cepat dari kekuatan baru menjadi salah satu pusat persaingan politik daerah. Kenaikannya paling terlihat dalam Pemilu DPR RI 2024. NasDem memperoleh sekitar 227.553 suara di Dapil Gorontalo. Angka ini menempatkan NasDem di atas Golkar yang memperoleh sekitar 163.704 suara, dengan selisih sekitar 63.849 suara.
Kemenangan itu penting karena DPR RI bukan hanya arena perebutan suara. Ia juga arena simbolik. Selama lebih dari 20 tahun, Golkar memiliki posisi kuat sebagai salah satu partai utama yang mewakili Gorontalo di tingkat nasional. Pada 2024, posisi itu bergeser. NasDem bukan hanya menang, tetapi mengambil sebagian ruang yang sebelumnya banyak ditempati Golkar.
Di DPRD Provinsi Gorontalo periode 2024–2029, NasDem memperoleh 7 kursi dari 45 kursi. Jumlah ini hanya tertinggal 1 kursi dari Golkar yang memperoleh 8 kursi, dan sejajar dengan PDI Perjuangan yang juga memperoleh 7 kursi. Gerindra berada di bawahnya dengan 6 kursi. Dengan komposisi ini, DPRD Provinsi tidak lagi menunjukkan dominasi satu partai, melainkan persaingan ketat beberapa partai besar.
Di DPRD kabupaten/kota, NasDem memiliki 30 kursi dari total 170 kursi. Jika digabung dengan 7 kursi DPRD Provinsi, total kursi NasDem di seluruh DPRD se-Gorontalo menjadi 37 kursi dari 215 kursi. Golkar masih berada di posisi pertama dengan 42 kursi. Tetapi jarak NasDem dengan Golkar hanya 5 kursi. Ini berarti NasDem sudah mencapai sekitar 88,1 persen kekuatan kursi Golkar dalam total DPRD se-Gorontalo.
Angka-angka itu menunjukkan satu hal: NasDem sudah kuat secara elektoral. Tetapi kekuatan elektoral belum otomatis menjadi kekuatan partai yang matang. Kemenangan suara belum selalu berarti partai sudah berakar. Kursi belum selalu berarti organisasi sudah bekerja sampai bawah. Figur belum selalu berarti kaderisasi. Di titik inilah NasDem Gorontalo harus dibaca lebih serius.
Tesis utama tulisan ini adalah bahwa NasDem Gorontalo naik karena berhasil menggabungkan figur Rachmat Gobel, jaringan elite, konflik dengan kekuatan lama, perpindahan elite lintas partai, kerja politik lokal, perluasan kursi DPRD, dan akses eksekutif. Namun, kemenangan itu belum otomatis menjadikan NasDem sebagai partai dominan. Ujian utamanya adalah apakah berbagai faktor pengungkit diatas dapat berubah menjadi kekuatan partai yang stabil, merata, dan tahan lama.
Melampaui Golkar
Kenaikan NasDem di Gorontalo tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa jejak, tetapi juga tidak dapat disebut pertumbuhan biasa. Sebelum 2019, NasDem belum memiliki kursi DPRD Provinsi. Pada periode 2014–2019, NasDem tidak memiliki kursi di DPRD Provinsi Gorontalo. Perubahan besar terjadi pada periode 2019–2024 ketika NasDem langsung memperoleh 6 kursi. Pada periode 2024–2029, NasDem naik lagi menjadi 7 kursi.
Lompatan dari 0 kursi menjadi 6 kursi perlu dijelaskan dengan hati-hati. NasDem memang belum memiliki kursi DPRD Provinsi sebelum 2019, tetapi bukan berarti partai ini sepenuhnya kosong secara elektoral. Pada Pemilu DPR RI 2014, NasDem sudah memperoleh 20.930 suara di Gorontalo. Suara tertinggi caleg NasDem saat itu diraih Indri Dunda dengan 7.229 suara. Artinya, pada 2014 NasDem sudah memiliki jejak awal, tetapi belum memiliki figur utama, jaringan elite, dan daya angkat politik yang cukup untuk masuk ke lapisan utama.

Karena itu, kenaikan besar pada 2019 harus dibaca sebagai pertemuan beberapa hal. Ada jejak elektoral awal dari 2014. Ada masuknya Rachmat Gobel sebagai figur pengungkit suara. Ada perpindahan dan bergabungnya elite dari partai lain. Ada ruang politik yang mulai terbuka akibat penyusutan daya dominasi Golkar. Ada pula pemilih yang makin cair dan tidak lagi sepenuhnya terikat pada partai lama.
Dengan kata lain, NasDem tidak membangun kekuatan dari nol secara murni. Ia membangun kekuatan dari titik awal yang kecil, lalu melonjak ketika memperoleh figur besar, jaringan elite, dan momentum politik. Kenaikan dari 0 kursi ke 6 kursi adalah lompatan politik. Kenaikan dari 6 kursi ke 7 kursi berarti tambahan 1 kursi atau sekitar 16,7 persen.
Perubahan paling kuat terlihat dalam Pemilu DPR RI. Pada 2004, Golkar memperoleh 254.525 suara, sementara NasDem belum menjadi peserta yang relevan dalam peta elektoral Gorontalo. Pada 2009, Golkar memperoleh 159.623 suara, sedangkan Gerindra mulai masuk dengan 11.392 suara. Pada 2014, Golkar melonjak menjadi 310.790 suara, sementara Gerindra naik menjadi 49.342 suara. NasDem pada Pemilu DPR RI 2014 memperoleh 20.930 suara, dengan suara tertinggi caleg NasDem diraih Indri Dunda sebesar 7.229 suara. Angka ini menunjukkan bahwa pada 2014 NasDem sudah hadir, tetapi masih berada di pinggir arena. Ia belum memiliki tokoh pengungkit suara seperti Rachmat Gobel, belum memiliki daya tarik elite yang kuat, dan belum menjadi rumah baru bagi jaringan politik lintas partai.
Perubahan besar terjadi pada 2019. NasDem masuk sebagai penantang serius dengan 169.509 suara, mendekati Golkar yang memperoleh 194.660 suara. Gerindra pada saat yang sama memperoleh 87.748 suara. Yang lebih penting, Rachmat Gobel memperoleh 146.067 suara. Pada saat yang sama, Idah Syaidah dari Golkar memperoleh 98.795 suara. Jadi, sejak 2019, pertarungan DPR RI tidak lagi hanya terbaca sebagai persaingan antarpartai, tetapi juga sebagai persaingan langsung antar tokoh besar: Rachmat Gobel di NasDem dan Idah Syahidah di Golkar, yang berada dalam orbit politik Rusli Habibie. Pada 2019, Golkar masih unggul atas NasDem sebagai partai. Selisihnya 25.151 suara. Namun, pada tingkat figur, Rachmat Gobel sudah jauh melampaui Idah Syahidah: 146.067 suara berbanding 98.795 suara. Selisih personalnya 47.272 suara. Ini berarti sejak 2019, NasDem memang belum mengalahkan Golkar sebagai partai, tetapi Rachmat Gobel sudah mengalahkan figur utama Golkar dalam pertarungan DPR RI.
Pada 2024, posisi berubah lebih tajam. NasDem naik menjadi 227.553 suara, Golkar turun menjadi 163.704 suara, dan Gerindra naik menjadi 145.152 suara. Pada level personal, Rachmat Gobel memperoleh 195.322 suara, sedangkan Rusli Habibie dari Golkar memperoleh 95.379 suara. Rusli bukan figur biasa. Ia adalah Gubernur Gorontalo 2012–2022 dan salah satu tokoh utama Golkar Gorontalo. Karena itu, perbandingan suara pribadi Rachmat dan Rusli pada 2024 menjadi sangat penting. Selisih suara pribadi Rachmat Gobel atas Rusli Habibie mencapai 99.943 suara. Ini menunjukkan bahwa kemenangan NasDem 2024 tidak hanya kemenangan partai, tetapi juga kemenangan personal Rachmat Gobel atas figur utama Golkar. Artinya, jarak personal yang pada 2019 sudah terlihat melalui Rachmat Gobel dan Idah Syahidah, pada 2024 menjadi lebih tajam ketika Rachmat Gobel berhadapan langsung secara elektoral dengan Rusli Habibie.
Perubahan posisi relatif NasDem terhadap Golkar mencapai 89.000 suara. Angka ini berasal dari gabungan ketertinggalan NasDem pada 2019 sebesar 25.151 suara dan keunggulan NasDem pada 2024 sebesar 63.849 suara.

Dari sisi pertumbuhan, suara NasDem naik dari 169.509 pada 2019 menjadi 227.553 pada 2024. Kenaikannya 58.044 suara atau sekitar 34,2 persen. Jika dilihat dari suara pribadi Rachmat Gobel, kenaikannya dari 146.067 suara pada 2019 menjadi 195.322 suara pada 2024. Artinya, suara pribadi Rachmat bertambah 49.255 suara atau sekitar 33,7 persen.
Sebaliknya, suara Golkar turun dari 194.660 menjadi 163.704 suara. Penurunannya 30.956 suara atau sekitar 15,9 persen. Di tingkat figur, Idah Syahidah memperoleh 98.795 suara pada 2019, sedangkan Rusli Habibie memperoleh 95.379 suara pada 2024. Ini menunjukkan bahwa pergantian figur utama Golkar dari Idah ke Rusli tidak menghasilkan kenaikan personal vote, tetapi justru sedikit menurun sekitar 3.416 suara atau sekitar 3,5 persen.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa NasDem bukan hanya naik, tetapi membalik posisi terhadap Golkar. Pada 2019, NasDem masih penantang sebagai partai, tetapi Rachmat Gobel sudah menang besar sebagai figur. Pada 2024, kemenangan figur itu berubah menjadi kemenangan partai. NasDem menjadi pemenang DPR RI di Gorontalo, dan Rachmat Gobel memperlebar jarak terhadap figur utama Golkar. Inilah titik balik yang membuat NasDem harus dibaca secara lebih serius. Partai ini tidak hanya menambah suara. Ia mengubah peta persaingan.

Perubahan ini juga menunjukkan bahwa politik Gorontalo sedang bergerak keluar dari pola lama. Golkar masih besar, tetapi tidak lagi menjadi pusat tunggal. NasDem masuk pada saat ruang politik mulai terbuka. Ruang itu terbuka karena beberapa hal: dominasi Golkar melemah, pemilih semakin cair, tokoh lokal makin menentukan pilihan pemilih, jaringan elite tidak lagi sepenuhnya terkonsentrasi pada satu partai, dan NasDem mampu menyerap elite dari partai-partai lain.
Konflik Elite dan Insentif Politik bagi NasDem
Kenaikan NasDem Gorontalo tidak dapat dilepaskan dari Rachmat Gobel. Ia bukan sekadar calon anggota DPR RI. Ia adalah figur nasional asal Gorontalo yang membawa nama keluarga, jaringan ekonomi-politik, akses ke pusat, dan simbol representasi daerah.
Dalam politik lokal, figur seperti Rachmat Gobel memiliki nilai lebih. Ia memberi pemilih rasa keterhubungan dengan pusat. Ia juga memberi NasDem wajah politik yang jelas. Partai tidak tampil sebagai organisasi yang abstrak, tetapi sebagai kendaraan politik yang membawa tokoh dengan jaringan nasional dan identitas Gorontalo yang kuat.

Rachmat Gobel memberi NasDem beberapa kekuatan sekaligus. Ia memberi daya tarik personal. Ia memberi jaminan akses ke pusat. Ia memberi simbol kebanggaan daerah. Ia memberi jaringan elite. Ia juga memberi alasan bagi pemilih untuk melihat NasDem sebagai saluran politik yang memiliki bobot nasional.
Namun, faktor Rachmat Gobel menjadi lebih kuat karena bertemu dengan konflik atau ketegangan politik dengan Rusli Habibie. Sejak 2019, ketika Rachmat Gobel bersaing dengan Idah Syahidah Habibie dalam Pemilu DPR RI, politik Gorontalo semakin terbaca dalam dua kutub besar. Di satu sisi ada Rachmat Gobel dan NasDem. Di sisi lain ada Rusli Habibie dan Golkar.
Pada 2019, Rachmat Gobel memperoleh 146.067 suara, sedangkan Idah Syahidah dari Golkar memperoleh 98.795 suara. Selisih 47.272 suara ini menunjukkan bahwa secara personal, Rachmat sudah unggul jauh atas figur yang mewakili kekuatan Golkar-Rusli. Pada 2024, pertarungan itu menjadi lebih langsung. Rachmat Gobel memperoleh 195.322 suara, sedangkan Rusli Habibie memperoleh 95.379 suara. Selisihnya mencapai 99.943 suara.
Perbandingan ini sangat penting. Pada 2019, Rachmat sudah menang atas Idah Syahidah sebagai representasi elektoral keluarga/kubu Rusli. Pada 2024, Rachmat menang lebih besar atas Rusli sendiri. Ini memperlihatkan bahwa konflik politik tidak menggerus Rachmat Gobel. Sebaliknya, konflik itu justru memberi tambahan energi dan memperkuat posisi Rachmat sebagai pusat mobilisasi NasDem.
Konflik ini memberi insentif politik besar bagi NasDem. Dalam politik elektoral, konflik tidak selalu merusak. Konflik juga bisa memberi kejelasan posisi. Bagi NasDem, ketegangan dengan kubu Rusli Habibie memberi garis pembeda yang tegas. NasDem tidak hanya tampil sebagai peserta pemilu. Ia tampil sebagai kanal politik bagi kelompok yang ingin mengimbangi atau mengoreksi dominasi lama yang dilekatkan pada Golkar dan jaringan Rusli Habibie.

Insentif pertama bagi NasDem adalah identitas politik. Konflik membuat NasDem memiliki lawan yang jelas. Dalam persaingan yang cair, partai sering kesulitan membangun identitas. Namun, dengan adanya pertarungan Rachmat Gobel dan Rusli Habibie, NasDem memperoleh posisi yang mudah dibaca: partai penantang terhadap kekuasaan lama. Identitas ini membuat pemilih dan jaringan pendukung lebih mudah menentukan sikap.
Insentif kedua adalah mobilisasi. Konflik membuat jaringan bergerak lebih kuat. Pendukung tidak hanya merasa sedang memilih partai, tetapi merasa sedang berada dalam satu barisan politik. Dalam situasi seperti ini, dukungan lebih mudah berubah menjadi kerja lapangan, konsolidasi keluarga, penguatan jaringan desa-kelurahan, serta pengamanan suara.
Insentif ketiga adalah emosi politik. Pemilu tidak hanya digerakkan oleh program, tetapi juga oleh rasa keberpihakan. Ketika politik terbaca sebagai pertarungan dua kubu, pemilih sering merasa memiliki alasan emosional untuk ikut terlibat. Dalam konteks ini, NasDem mendapat keuntungan karena Rachmat Gobel bukan hanya menjadi calon, tetapi menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi lama.
Insentif keempat adalah narasi. NasDem dapat membangun cerita politik yang lebih sederhana dan mudah dipahami: Gorontalo membutuhkan saluran baru, wajah baru, dan kekuatan baru yang tidak sepenuhnya berada dalam bayang-bayang Golkar. Narasi ini menjadi kuat karena Golkar sudah lama berada di pusat politik daerah. Ketika dominasi lama mulai melemah, narasi perubahan menjadi lebih mudah diterima.
Insentif kelima adalah koalisi sosial. Konflik elite sering membuka ruang bagi aktor-aktor yang sebelumnya tidak sepenuhnya masuk dalam jaringan utama kekuasaan. Tokoh lokal, caleg, pengusaha, komunitas, dan kelompok pemilih yang merasa tidak terakomodasi oleh pusat kekuasaan lama dapat menemukan rumah politik baru. Dalam hal ini, NasDem menjadi tempat berhimpun bagi energi yang ingin keluar dari orbit Golkar-Rusli.
Sebaliknya, konflik ini memberi kerugian bagi Golkar. Kerugian pertama adalah citra. Ketika Golkar terlalu dilekatkan pada figur Rusli Habibie, maka kritik atau resistensi terhadap Rusli dapat ikut menjadi resistensi terhadap Golkar. Partai tidak lagi sepenuhnya dibaca sebagai institusi luas, tetapi sebagai perpanjangan dari satu figur atau satu faksi.
Kerugian kedua adalah penyempitan basis. Golkar adalah partai historis yang seharusnya dapat menampung banyak kelompok. Namun, jika partai terlalu terasosiasi dengan satu figur kuat, ruang politiknya bisa menyempit. Kelompok yang tidak sejalan dengan figur tersebut dapat mencari kendaraan lain. NasDem menjadi salah satu penerima manfaat dari situasi ini.
Kerugian ketiga adalah beban personalisasi. Konflik pribadi atau konflik antarelite dapat membuat Golkar kehilangan sebagian daya institusionalnya. Partai yang terlalu melekat pada figur akan ikut menanggung beban figur itu. Jika figur dikritik, partai ikut terkena. Jika figur mengalami penurunan daya tarik, partai ikut menurun. Ini terlihat dari penurunan suara Golkar dalam DPR RI dari 194.660 suara pada 2019 menjadi 163.704 suara pada 2024. Lebih jauh, suara figur utama Golkar juga tidak menguat. Idah Syahidah memperoleh 98.795 suara pada 2019, sedangkan Rusli Habibie memperoleh 95.379 suara pada 2024. Artinya, ketika Rusli turun langsung dalam arena DPR RI, ia tidak mampu melampaui suara Idah pada 2019, sementara Rachmat Gobel justru naik dari 146.067 menjadi 195.322 suara.
Kerugian keempat adalah hilangnya “ruang tengah”. Dalam konflik politik elektoral yang kuat, pemilih cenderung dipaksa memilih kutub. Bagi Golkar, ini tidak selalu menguntungkan. Sebab, partai lama biasanya kuat ketika mampu menjadi rumah besar bagi berbagai kepentingan. Ketika arena terbelah, sebagian pemilih yang ingin koreksi atau alternatif dapat bergerak ke NasDem.
Kerugian kelima adalah terbukanya ruang bagi partai lain. Konflik Rachmat Gobel dan Rusli Habibie memang paling menguntungkan NasDem, tetapi efeknya tidak berhenti di situ. PDI-P, Gerindra, Demokrat, dan partai lain juga mendapat ruang dari melemahnya dominasi tunggal. Ketika Golkar tidak lagi dilihat sebagai satu-satunya pusat, partai-partai lain dapat memperkuat basis masing-masing.
Di titik ini, Golkar mengalami kerugian ganda. Di satu sisi, Golkar harus menanggung beban personalisasi Rusli Habibie. Di sisi lain, Golkar tidak lagi sendirian sebagai tempat berkumpulnya elite lokal. Sejumlah elite yang pernah berada di Golkar atau partai lain justru menemukan ruang baru di NasDem. Karena itu, konflik personal tidak hanya menurunkan citra Golkar, tetapi juga mempercepat pergeseran jaringan elite keluar dari pusat lama.
Dengan demikian, konflik Rachmat Gobel dan Rusli Habibie bukan sekadar catatan personal. Ia menjadi faktor politik yang mengubah insentif bagi partai. Bagi NasDem, konflik itu menjadi energi, identitas, dan alat mobilisasi. Bagi Golkar, konflik itu menjadi beban, karena partai harus menanggung konsekuensi dari personalisasi politik Rusli Habibie dan pada akhirnya harus menanggung melemahnya posisi elektoral. Data 2019 dan 2024 memperlihatkan pola yang konsisten: Rachmat Gobel bukan hanya mengalahkan figur Golkar, tetapi juga memperlebar jarak personalnya. Kenaikan jarak ini menunjukkan bahwa konflik tidak melemahkan Rachmat, tetapi justru memberi tambahan energi bagi kubu NasDem.
Namun, konflik bukan satu-satunya penyebab. Konflik hanya menjadi bahan bakar. Agar bahan bakar itu berubah menjadi suara dan kursi, tetap diperlukan figur, caleg, saksi, struktur, pembiayaan, komunikasi politik, dan kerja wilayah. Tanpa kerja elektoral, konflik hanya menjadi keributan. Dengan organisasi dan jaringan, konflik berubah menjadi kekuatan politik.
Kenaikan NasDem pada 2019 dan 2024 terjadi karena beberapa faktor bertemu. Rachmat Gobel memberi daya angkat. Konflik dengan Rusli Habibie memberi energi dan garis pembeda. Pelemahan Golkar membuka ruang. Perpindahan elite lintas partai memperkuat jaringan. Caleg lokal memberi kaki di wilayah. DPRD memberi struktur. Eksekutif memberi akses pemerintahan. Fragmentasi partai membuat NasDem punya ruang tawar lebih besar. Pemilih yang makin cair membuat partai lama tidak lagi otomatis mengikat suara.
Faktor perpindahan elite sangat penting. Sebagian besar elite NasDem Gorontalo tidak lahir dari kaderisasi murni NasDem, tetapi berasal dari partai-partai lain. Dari Golkar ada nama-nama seperti Marten Taha, Iwan Sjafruddin Adam, Rum Pagau, Antoni Karim, dan almarhum Rustam Akili. Dari PAN ada Roni Imran, Feriyanto Mayulu, Lola Junus, Lolly Junus dan Umar Karim. Dari PBB ada Mikson Yapanto. Dari PPP ada Sofyan Puhi. Perpindahan elite ini menjelaskan mengapa NasDem bisa melonjak cepat: partai ini tidak membangun kekuatan dari nol, tetapi menyerap jaringan, pengalaman, basis sosial, dan modal elektoral elite-elite yang sebelumnya berada di partai lain.

Dengan demikian, kenaikan NasDem bukan hanya hasil pertumbuhan internal. Ia juga hasil konsolidasi ulang elite politik Gorontalo. NasDem menjadi kendaraan baru bagi tokoh-tokoh yang membawa basis lama, tetapi ingin bergerak dalam konfigurasi politik baru.
Peta Kekuatan: DPRD, Eksekutif, dan Persaingan Partai
Kekuatan NasDem tidak hanya terlihat pada DPR RI. Jika DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten/kota digabung, NasDem sudah menjadi partai kedua terbesar di Gorontalo.
Total kursi DPRD se-Gorontalo adalah 215 kursi. Angka ini berasal dari 45 kursi DPRD Provinsi dan 170 kursi DPRD kabupaten/kota. Dalam total itu, Golkar memiliki 42 kursi atau sekitar 19,5 persen. NasDem memiliki 37 kursi atau sekitar 17,2 persen. Gerindra memiliki 28 kursi atau sekitar 13,0 persen. PDI Perjuangan memiliki 27 kursi atau sekitar 12,6 persen. PPP memiliki 23 kursi atau sekitar 10,7 persen. Demokrat dan PKS masing-masing memiliki 14 kursi atau sekitar 6,5 persen. PAN memiliki 13 kursi atau sekitar 6,0 persen. PKB dan Hanura masing-masing memiliki 7 kursi atau sekitar 3,3 persen. Gelora memiliki 2 kursi, dan Perindo memiliki 1 kursi.

Data ini menunjukkan bahwa NasDem belum menjadi partai nomor satu dalam total DPRD. Tetapi jaraknya dengan Golkar sudah sangat dekat. Selisihnya hanya 5 kursi. Pada saat yang sama, NasDem unggul 9 kursi atas Gerindra dan 10 kursi atas PDI Perjuangan.
Rasio total DPRD NasDem terhadap Golkar adalah 37 berbanding 42, atau sekitar 88,1 persen. Artinya, dari sisi total kursi DPRD, kekuatan NasDem sudah mencapai 88,1 persen dari kekuatan Golkar. Ini menjelaskan mengapa NasDem tidak lagi bisa diperlakukan sebagai partai pelengkap. Ia sudah menjadi penantang utama.
Sebaran kursi NasDem di DPRD kabupaten/kota juga penting untuk dibaca. Di Kota Gorontalo, NasDem memperoleh 4 kursi dari 30 kursi atau sekitar 13,3 persen. Di Kabupaten Gorontalo, NasDem memperoleh 6 kursi dari 40 kursi atau sekitar 15,0 persen. Di Boalemo, NasDem memperoleh 4 kursi dari 25 kursi atau sekitar 16,0 persen. Di Pohuwato, NasDem memperoleh 3 kursi dari 25 kursi atau sekitar 12,0 persen. Di Bone Bolango, NasDem memperoleh 6 kursi dari 25 kursi atau sekitar 24,0 persen. Di Gorontalo Utara, NasDem memperoleh 7 kursi dari 25 kursi atau sekitar 28,0 persen.
Dari total 30 kursi DPRD kabupaten/kota, NasDem rata-rata memperoleh 5 kursi per daerah. Kursi terendah ada di Pohuwato dengan 3 kursi, sedangkan yang tertinggi ada di Gorontalo Utara dengan 7 kursi. Rentangnya 4 kursi. Jika dihitung secara sederhana, standar deviasinya sekitar 1,41 kursi dan koefisien variasinya sekitar 28,2 persen. Ini berarti sebaran NasDem cukup luas, tetapi belum sepenuhnya merata.

Tiga daerah menjadi basis utama NasDem: Gorontalo Utara dengan 7 kursi, Kabupaten Gorontalo dengan 6 kursi, dan Bone Bolango dengan 6 kursi. Jika dijumlahkan, tiga daerah ini menyumbang 19 kursi dari total 30 kursi DPRD kabupaten/kota NasDem. Persentasenya sekitar 63,3 persen. Ini berarti 63,3 persen kekuatan DPRD kabupaten/kota NasDem berasal dari tiga daerah. Ini adalah kekuatan sekaligus risiko. Kekuatan, karena NasDem punya basis wilayah yang jelas. Risiko, karena jika salah satu dari tiga basis itu melemah, total kekuatan NasDem ikut terpengaruh.
Gorontalo Utara dan Bone Bolango adalah dua wilayah paling kuat bagi NasDem. Di Gorontalo Utara, NasDem memperoleh 7 kursi dari 25 kursi atau 28,0 persen. Di Bone Bolango, NasDem memperoleh 6 kursi dari 25 kursi atau 24,0 persen. Kabupaten Gorontalo menjadi basis penyangga dengan 6 kursi dari 40 kursi atau 15,0 persen.
Sebaliknya, Pohuwato masih menjadi titik lemah relatif. NasDem hanya memperoleh 3 kursi dari 25 kursi atau 12,0 persen. Di Kota Gorontalo, NasDem memperoleh 4 kursi dari 30 kursi atau 13,3 persen. Ini bukan angka kecil, tetapi belum cukup untuk disebut dominan.
Jika dibandingkan dengan Golkar, NasDem menunjukkan dua wajah. Di DPR RI, NasDem sudah jauh di atas Golkar. Di DPRD, NasDem masih sedikit di bawah Golkar. Pada DPR RI 2024, NasDem memperoleh 227.553 suara, sedangkan Golkar memperoleh 163.704 suara. NasDem unggul 63.849 suara. Di DPRD Provinsi, Golkar memiliki 8 kursi, sedangkan NasDem 7 kursi. Di DPRD kabupaten/kota, Golkar memiliki 34 kursi, sedangkan NasDem 30 kursi. Dalam total DPRD, Golkar memiliki 42 kursi dan NasDem 37 kursi.
Di DPR RI, rasio suara NasDem terhadap Golkar adalah 139,0 persen. Dalam total DPRD, rasio NasDem terhadap Golkar sekitar 88,1 persen. Perbedaan ini menarik. Performa DPR RI NasDem jauh lebih tinggi daripada kekuatan relatifnya dalam total DPRD. Jika dihitung, 139 dibagi 88,1 menghasilkan angka sekitar 1,58. Artinya, performa DPR RI NasDem sekitar 58 persen lebih tinggi dibandingkan kekuatan relatifnya dalam total DPRD. Perbedaan ini dapat dibaca sebagai efek Rachmat Gobel. Dengan kata lain, Rachmat Gobel membuat NasDem jauh lebih kuat dalam DPR RI dibandingkan basis DPRD-nya.

Jika dibandingkan dengan PDI Perjuangan, NasDem unggul dalam agregat. PDI-P sama-sama memiliki 7 kursi DPRD Provinsi, tetapi hanya memiliki 20 kursi DPRD kabupaten/kota dan 27 kursi total DPRD. Di DPR RI 2024, PDI-P memperoleh 46.225 suara, jauh di bawah NasDem. PDI-P lebih tepat dibaca sebagai partai yang stabil di beberapa wilayah, sedangkan NasDem adalah partai yang naik cepat secara agregat.
Jika dibandingkan dengan Gerindra, NasDem juga unggul dalam semua arena utama: DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan total DPRD. Gerindra memperoleh 145.152 suara DPR RI, 6 kursi DPRD Provinsi, 22 kursi DPRD kabupaten/kota, dan 28 kursi total DPRD. Gerindra tumbuh kuat melalui Prabowo dan Elnino. Pada 2024, Elnino memperoleh 126.129 suara, sekitar 86,89 persen dari total suara Gerindra 145.152. Coblos logo Gerindra hanya 12.395 suara atau 8,54 persen. Ini menunjukkan bahwa kekuatan Gerindra di DPR RI sangat bertumpu pada personal vote Elnino.
NasDem juga bertumpu pada figur, tetapi modelnya berbeda. Gerindra bertumpu pada personal vote Elnino. NasDem bertumpu pada elite network yang dikonstruksi Rachmat Gobel. Keduanya kuat karena figur, tetapi bentuk ketergantungannya berbeda.
Demokrat masih kecil dalam DPR RI 2024 dengan sekitar 14.090 suara. Namun, Demokrat bisa menjadi variabel baru jika Erwin Ismail maju dan mampu memanfaatkan posisi Gusnar Ismail sebagai Gubernur Gorontalo dari Demokrat. PPP, PAN, PKS, PKB, dan Hanura tetap penting di DPRD, tetapi belum menjadi pusat perubahan sebesar NasDem, Golkar, Gerindra, dan PDI-P.
Eksekutif memperkuat posisi NasDem, tetapi juga memperlihatkan batas kekuatannya. Di Kabupaten Gorontalo, Sofyan Puhi menjadi Bupati dari NasDem, berpasangan dengan Tonny S. Junus dari PDI-P. Di Boalemo, Rum Pagau menjadi Bupati dari NasDem, berpasangan dengan Lahmudin Hambali dari Golkar. Di Pohuwato, Iwan Sjafruddin Adam dari NasDem menjadi Wakil Bupati, berpasangan dengan Saipul A. Mbuinga dari Gerindra. Di Bone Bolango, NasDem memiliki rekam jejak yang kuat melalui Hamim Pou dan Merlan S. Uloli.
Namun, NasDem tidak selalu menang dalam arena eksekutif. Dalam Pilgub, calon dari NasDem kalah dari calon Demokrat Gerindra dan Golkar. Di Pilkada, NasDem kalah di Bone Bolango, kalah di Kota Gorontalo, dan kalah dalam PSU Gorontalo Utara. Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa kekuatan NasDem tidak boleh dibaca secara berlebihan. NasDem memang menang besar di DPR RI dan menjadi partai kedua dalam total DPRD, tetapi dalam kontestasi kepala daerah, partai ini masih menghadapi hambatan. Figur nasional dan jaringan elite belum otomatis menjamin kemenangan eksekutif lokal.
Posisi eksekutif ini membuat NasDem tidak lagi hanya menjadi partai kritik. NasDem mulai menjadi partai yang ikut memerintah di beberapa tempat, tetapi juga menjadi partai yang harus menjelaskan kekalahan di tempat lain. Ini peluang sekaligus risiko. Peluangnya, NasDem dapat membuktikan kemampuan memerintah di daerah yang dimenangkan. Risikonya, NasDem akan dinilai dari pelayanan publik, pembangunan, APBD, birokrasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah daerah. Kekalahan di Pilgub, Bone Bolango, Kota Gorontalo, dan PSU Gorontalo Utara juga menjadi pengingat bahwa kekuatan NasDem belum sepenuhnya terkonsolidasi dalam arena eksekutif.
Setelah masuk eksekutif, NasDem tidak cukup lagi hidup dari kritik. Ia akan dinilai dari kinerja.
Apa dan Bagaimana ke Depan
NasDem Gorontalo sekarang berada dalam fase transisi. Ia sudah kuat sebagai kendaraan politik, tetapi masih harus membuktikan diri sebagai partai yang mengakar. Ia sudah menang secara elektoral, tetapi belum selesai secara kelembagaan.
Kemenangan DPR RI 2024 harus dibaca sebagai modal, bukan jaminan. Keunggulan 63.849 suara atas Golkar adalah prestasi besar. Namun, performa DPR RI yang jauh lebih tinggi daripada kekuatan DPRD menunjukkan bahwa Rachmat Gobel masih menjadi faktor pengali utama. Ini bukan kelemahan dalam jangka pendek, tetapi bisa menjadi risiko dalam jangka panjang jika tidak diubah menjadi kekuatan partai.
NasDem juga harus membaca 37 kursi total DPRD sebagai modal organisasi. Kursi itu tidak boleh hanya menjadi angka. Ia harus menjadi jaringan kerja politik, kaderisasi, kontrol wilayah, dan hubungan sosial dengan pemilih. Jika kursi DPRD hanya berhenti sebagai jabatan elektoral, NasDem akan kesulitan memperdalam basisnya. Tetapi jika kursi itu diubah menjadi kerja politik harian, NasDem dapat membangun akar yang lebih kuat.
Eksekutif juga harus dibaca sebagai ujian. Sofyan Puhi, Rum Pagau, Iwan Sjafruddin Adam, serta jejak Hamim Pou dan Merlan Uloli memberi NasDem panggung pemerintahan. Tetapi panggung itu akan menjadi beban jika tidak menghasilkan kinerja. Setelah masuk pemerintahan, NasDem tidak bisa hanya mengandalkan narasi perubahan. Ia harus menunjukkan pelayanan publik, tata kelola, pembangunan, dan kemampuan menyelesaikan masalah daerah.
Pada saat yang sama, kekalahan calon NasDem dalam Pilgub, Bone Bolango, Kota Gorontalo, dan PSU Gorontalo Utara harus menjadi bahan evaluasi. Kekalahan itu menunjukkan bahwa NasDem belum sepenuhnya mampu mengubah kekuatan DPR RI dan DPRD menjadi kemenangan eksekutif di semua arena. Di sinilah letak ujian berikutnya: bagaimana NasDem menghubungkan suara Rachmat Gobel, kursi DPRD, jaringan elite, dan kandidat lokal menjadi kekuatan yang lebih utuh.
Basis wilayah juga harus dibaca secara realistis. Gorontalo Utara, Bone Bolango, dan Kabupaten Gorontalo adalah kekuatan utama. Pohuwato dan Kota Gorontalo adalah ruang yang belum dominan. Penguatan wilayah tidak bisa hanya bertumpu pada DPR RI, tetapi harus melalui kerja DPRD, kepala daerah, kader lokal, dan isu publik yang nyata.
Ada empat pekerjaan besar bagi NasDem ke depan. Pertama, mengubah efek Rachmat Gobel menjadi kekuatan partai. Rachmat Gobel adalah aset besar, tetapi partai tidak boleh berhenti pada satu figur. Efek figur harus diterjemahkan menjadi kerja struktur, kader lokal, komunikasi publik, dan kehadiran partai di masyarakat.
Kedua, memperkuat kaderisasi. Dalam konteks Gorontalo, NasDem harus memastikan bahwa anggota DPRD, kepala daerah, dan pengurus wilayah tidak hanya menjadi peraih suara, tetapi juga menjadi penggerak partai. Partai yang kuat tidak hanya punya tokoh besar, tetapi juga punya kader yang bekerja terus-menerus di masyarakat.
Ketiga, memperluas basis sosial. NasDem tidak cukup hanya bertumpu pada elite. Jika NasDem ingin bertahan lama, ia harus hadir dalam kelompok muda, komunitas lokal, perempuan, petani, nelayan, pelaku UMKM, dan pemilih urban. Partai yang hanya bergerak di sekitar elite akan sulit bertahan ketika suasana politik berubah.
Keempat, mengubah energi konflik menjadi agenda publik. Konflik Rachmat Gobel dan Rusli Habibie membantu menaikkan energi politik NasDem. Tetapi masa depan NasDem tidak bisa hanya bertumpu pada konflik. NasDem harus mengubah energi itu menjadi agenda publik: ekonomi daerah, pertanian, perikanan, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, lapangan kerja, dan tata kelola pemerintahan.
Bagi Golkar, NasDem adalah penantang paling serius karena sudah mengalahkan Golkar di DPR RI dan hanya tertinggal 5 kursi dalam total DPRD. Golkar tidak bisa lagi membaca NasDem sebagai partai baru. Bagi PDI-P, NasDem adalah pesaing agregat. PDI-P stabil di wilayah tertentu, tetapi NasDem unggul dalam DPR RI dan total DPRD. Bagi Gerindra, NasDem adalah pesaing berbeda. Gerindra kuat melalui personal vote Elnino dan efek Prabowo, sedangkan NasDem kuat melalui Rachmat Gobel dan jaringan elite. Bagi Demokrat, pengalaman NasDem memberi pelajaran bahwa figur harus dikombinasikan dengan struktur, komunikasi politik, dan jaringan lokal.
NasDem Gorontalo telah naik kelas. Ia menang di DPR RI, mendekati Golkar dalam total DPRD, kuat di beberapa wilayah, dan memiliki akses eksekutif. Tetapi kemenangan itu belum selesai. NasDem masih harus membuktikan bahwa kekuatannya tidak hanya berasal dari Rachmat Gobel, konflik elite, dan momentum politik.
Jika NasDem berhasil mengubah semua faktor menjadi kekuatan partai, memperluas basis wilayah, memperkuat kader lokal, dan menunjukkan kinerja eksekutif, maka NasDem bisa menjadi penantang utama Golkar dalam jangka panjang. Tetapi jika NasDem tetap terlalu bergantung pada satu figur, terlalu hidup dari konflik, dan gagal memperkuat struktur lokal, maka kenaikan 2019 dan 2024 bisa menjadi puncak sementara, bukan awal dominasi baru.
NasDem Gorontalo sudah menang secara elektoral, tetapi belum selesai secara kelembagaan. Masa depannya ditentukan oleh satu hal: apakah berbagai faktor pengungkit dapat diubah menjadi kekuatan partai yang bekerja, berakar, dan bertahan.

