Dari Gorontalo hingga Sulawesi Tengah, 2,38 Ton Beras Disalurkan: Program Zakat dan Infaq Majelis Muhyin Nufuus Gorontalo

Dari Gorontalo hingga Sulawesi Tengah, 2,38 Ton Beras Disalurkan: Program Zakat dan Infaq Majelis Muhyin Nufuus Gorontalo

GORONTALO, Kambungu.id, Di sudut-sudut kampung, menjelang Hari Raya Idulfitri, ada satu hal yang selalu dinantikan sebagian keluarga: kepastian bahwa dapur mereka tetap menyala.

Di tengah kebutuhan yang kian meningkat, Majelis Dzikir dan Doa Muhyin Nufuus hadir membawa harapan itu. Bukan dengan gemuruh, melainkan melalui kerja sunyi yang terorganisir rapi.

Tahun 2026 ini, majelis tersebut berhasil menghimpun sekaligus menyalurkan 2,38 ton beras, hasil dari zakat fitrah dan infaq masyarakat selama Ramadan.

Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada 380 kepala keluarga atau sekitar 1.140 jiwa yang merasakan langsung manfaatnya.

 Dari Muzakki ke Mustahik: Rantai Kepedulian

Program ini melibatkan sekitar 550 muzakki, yang menunaikan zakat baik dalam bentuk beras maupun uang yang kemudian dikonversi. Penghimpunan dilakukan melalui 83 koordinator yang tersebar di berbagai wilayah. Mereka menjadi penghubung antara masyarakat yang memberi dan mereka yang membutuhkan.

Ketua Panitia, Dahlan Idji, menyebut keberhasilan ini tidak lepas dari kepercayaan masyarakat. “Ini bukan sekadar program tahunan. Ini amanah. Zakat yang dititipkan kepada kami harus benar-benar sampai kepada yang berhak,” ujarnya. Dari total zakat fitrah yang terkumpul, sebanyak 1.375 kilogram beras disalurkan kepada 280 keluarga mustahik, masing-masing menerima 5 kilogram.

Sementara itu, infaq beras yang mencapai 1 ton telah menjangkau 100 keluarga, dengan sebagian lainnya masih dialokasikan untuk kegiatan sosial lanjutan.

Menjangkau Lebih Jauh dari yang Terlihat

Jika ditarik pada peta, distribusi bantuan ini tidak berhenti di satu titik. Ia menjalar dari Kota Gorontalo, menyentuh wilayah Kabupaten Gorontalo, Bone Bolango, hingga Boalemo. Bahkan, jangkauan itu melintasi batas provinsi, mencapai Kecamatan Paleleh di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Totalnya, distribusi mencakup 5 kabupaten/kota dan 15 kecamatan, termasuk desa-desa seperti Buhu, Mutiara, hingga Panggulo.

Bagi Dahlan, luasnya jangkauan ini menunjukkan satu hal: kepedulian tidak mengenal batas administratif. “Selama masih ada yang membutuhkan dan kita mampu menjangkau, maka itu yang akan kita lakukan,” katanya.

Di Balik Angka, Ada Cerita Kehidupan

Distribusi dilakukan dengan pendekatan sederhana namun efektif: berbasis komunitas. Koordinator di tingkat wilayah mendata langsung penerima manfaat, memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran. Pendekatan ini membuat proses lebih personal—bukan sekadar pembagian bantuan, tetapi juga bentuk perhatian yang dirasakan langsung.

Di banyak tempat, bantuan tersebut menjadi penopang utama kebutuhan pangan menjelang Lebaran.

Menjaga Amanah, Membangun Kepercayaan

Salah satu hal yang dijaga dalam program ini adalah transparansi. Seluruh zakat yang dihimpun, menurut panitia, tersalurkan 100 persen tanpa sisa. Prosesnya melalui tahapan yang jelas: mulai dari pengumpulan, verifikasi data, hingga distribusi.

“Kami berusaha menjaga kepercayaan ini dengan sebaik mungkin. Karena bagi kami, ini bukan hanya tanggung jawab sosial, tapi juga tanggung jawab moral,” kata Dahlan.

Salah satu donatur infaq, Yani Uloli mengucapkan terima kasih kepada Majelis Muhyin Nufuus Gorontalo yang telah membantu menyalurkan infaq untuk masyarakat yang membutuhkan, apalagi distribusinya hingga ke Provinsi Sulawesi Tengah.

Langkah ke Depan: Dari Tradisional ke Digital

Meski berjalan efektif, panitia menyadari masih ada ruang untuk perbaikan. Salah satunya adalah digitalisasi sistem pencatatan dan pelaporan, agar pengelolaan zakat bisa lebih akurat, cepat, dan transparan. Selain itu, pembaruan data mustahik secara berkala juga menjadi fokus ke depan, agar distribusi bantuan semakin tepat sasaran.

Di tengah berbagai tantangan sosial, program ini menjadi pengingat bahwa solidaritas masih hidup. Bahwa di balik rutinitas Ramadan, ada tangan-tangan yang bekerja memastikan tidak ada yang tertinggal. Dan bahwa zakat, pada akhirnya, bukan hanya soal kewajiban—tetapi tentang bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Dengan total 2,38 ton beras yang disalurkan, Majelis Muhyin Nufuus tidak hanya membagikan bantuan, tetapi juga merawat harapan. Harapan bahwa kebersamaan masih menjadi kekuatan utama masyarakat.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *