JAKARTA — Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Gorontalo, Dr. Funco Tanipu, S.T., M.A., menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap Mayjen TNI Sudaryanto yang dipercaya mengemban amanah sebagai Panglima Kodam IV/Diponegoro. Menurut Funco, perjalanan karier Sudaryanto yang panjang, pengalaman lintas penugasan, serta keterlibatannya dalam bidang pertahanan dan pencegahan terorisme merupakan modal strategis untuk memperkuat sinergi keamanan di tengah dinamika tantangan kebangsaan yang semakin kompleks.
Bagi Funco, rekam jejak seorang perwira tinggi tidak semata-mata diukur dari panjangnya daftar jabatan yang pernah diemban, tetapi juga dari keluasan pengalaman yang membentuk perspektif strategis, kemampuan membaca situasi, dan pemahaman terhadap hubungan antara keamanan negara dan kehidupan masyarakat. Dalam konteks tersebut, perjalanan Sudaryanto memperlihatkan spektrum pengalaman yang mencakup satuan operasi khusus, pendidikan dan pembinaan militer, komando kewilayahan, pengelolaan kawasan pertahanan, hingga penugasan di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
“Saya menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap Mayjen TNI Sudaryanto. Beliau memiliki pengalaman panjang dengan spektrum penugasan yang beragam. Rekam jejak tersebut merupakan modal penting untuk memperkuat kepemimpinan, membangun sinergi antarlembaga, dan mengembangkan pendekatan keamanan yang responsif terhadap dinamika masyarakat,” ujar Funco.
Menurut Funco, salah satu aspek penting dari perjalanan karier Mayjen TNI Sudaryanto adalah pertemuan antara pengalaman operasional dan pengalaman kelembagaan. Pengalaman di satuan operasi membentuk pemahaman mengenai disiplin, kesiapsiagaan, pengambilan keputusan, dan pengelolaan risiko. Sementara itu, pengalaman dalam pendidikan militer, komando kewilayahan, serta lembaga strategis memperluas perspektif mengenai pembinaan personel, koordinasi organisasi, dan hubungan antara kebijakan keamanan dengan kondisi sosial di lapangan.
Kombinasi tersebut penting karena tantangan keamanan kontemporer tidak lagi dapat dipahami hanya melalui pendekatan yang berorientasi pada ancaman fisik. Perkembangan teknologi informasi, penyebaran ideologi kekerasan, polarisasi sosial, konflik kepentingan, serta perubahan pola interaksi masyarakat menuntut kemampuan untuk menghubungkan kesiapan operasional dengan pencegahan, analisis situasi, dan koordinasi lintas sektor.
Dalam pandangan Funco, pengalaman Mayjen TNI Sudaryanto di BNPT menjadi salah satu dimensi yang memperkaya rekam jejak tersebut. Ketika menjabat sebagai Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Sudaryanto berada dalam lingkungan kerja yang berhubungan dengan upaya pencegahan terorisme, perlindungan masyarakat, serta penguatan program deradikalisasi. Bidang ini memiliki karakter yang berbeda dari operasi militer konvensional karena keberhasilannya juga bergantung pada kemampuan membangun kepercayaan, mengembangkan komunikasi, dan memperkuat ketahanan sosial.
“Pencegahan terorisme mengajarkan bahwa keamanan yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar kesiapan menghadapi ancaman. Diperlukan kemampuan membangun ketahanan masyarakat, memperkuat kesadaran kebangsaan, dan mengembangkan kerja sama antara institusi negara dengan berbagai unsur masyarakat. Pengalaman di bidang tersebut merupakan bekal yang relevan dalam memperluas perspektif mengenai keamanan,” kata Funco.
Ia menilai, pengalaman lintas bidang seperti yang dimiliki Mayjen TNI Sudaryanto dapat menjadi modal untuk melihat keamanan secara lebih komprehensif. Keamanan bukan hanya persoalan bagaimana negara merespons ancaman ketika terjadi, melainkan juga bagaimana institusi mampu mengenali risiko sejak dini, membangun koordinasi yang efektif, serta menciptakan kondisi sosial yang dapat mengurangi ruang tumbuhnya kekerasan.
Dalam perspektif tata kelola keamanan, efektivitas tidak hanya ditentukan oleh kapasitas masing-masing institusi, tetapi juga oleh kualitas hubungan di antara institusi tersebut. TNI, Polri, pemerintah daerah, lembaga intelijen sesuai kewenangannya, BNPT, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi sipil memiliki peran yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi. Sinergi yang kuat memungkinkan pertukaran informasi yang sesuai ketentuan, penyelarasan langkah pencegahan, dan respons yang lebih terkoordinasi terhadap persoalan keamanan.
Karena itu, Funco memandang pengalaman Mayjen TNI Sudaryanto sebagai peluang untuk memperkuat pendekatan kolaboratif dalam pelaksanaan tugas di Kodam IV/Diponegoro. Harapan tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan kemampuan menjalankan fungsi komando, tetapi juga dengan kapasitas membangun hubungan kelembagaan yang produktif dan memahami karakteristik masyarakat di wilayah tugas.
“Menurut saya, salah satu kekuatan dari pengalaman panjang adalah kemampuan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. Ketika pengalaman operasional bertemu dengan pemahaman kelembagaan dan pengalaman di bidang pencegahan, terbuka ruang untuk membangun strategi keamanan yang lebih terintegrasi. Kami berharap modal pengalaman yang dimiliki Mayjen Sudaryanto dapat semakin memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menjaga stabilitas wilayah,” ujarnya.
Funco juga menekankan bahwa setiap wilayah memiliki karakter sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang berbeda. Oleh sebab itu, pendekatan keamanan yang efektif membutuhkan pemahaman terhadap konteks lokal, komunikasi yang baik dengan pemangku kepentingan, serta kemampuan membedakan persoalan yang memerlukan penanganan keamanan dengan persoalan sosial yang lebih tepat diselesaikan melalui dialog, mediasi, atau kebijakan publik.
Pendekatan tersebut tidak mengurangi pentingnya ketegasan aparat dalam menjalankan tugas. Sebaliknya, ketegasan yang didukung pemahaman situasi, koordinasi yang baik, dan komunikasi yang tepat dapat membantu memastikan bahwa tindakan keamanan berjalan sesuai kewenangan serta memperoleh dukungan masyarakat. Dalam kerangka inilah pencegahan dan penegakan hukum dapat ditempatkan sebagai pendekatan yang saling melengkapi.
Bagi Funco, kepemimpinan keamanan yang relevan dengan tantangan masa kini adalah kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan kapasitas organisasi, kecermatan membaca perubahan, dan kemampuan membangun kepercayaan. Pengalaman panjang Mayjen TNI Sudaryanto di berbagai lingkungan penugasan menjadi alasan bagi Funco untuk menyampaikan apresiasi sekaligus harapan agar pengalaman tersebut terus diterjemahkan menjadi penguatan kerja sama dan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Saya melihat pengalaman dan rekam jejak Mayjen Sudaryanto sebagai modal yang patut diapresiasi. Harapan kami, pengalaman tersebut dapat terus dikembangkan untuk memperkuat koordinasi antarlembaga, membangun hubungan yang semakin baik dengan masyarakat, dan memastikan bahwa upaya menjaga keamanan berjalan seiring dengan penguatan ketahanan sosial serta kehidupan kebangsaan,” tutur Funco.
Ia berharap kepemimpinan Mayjen TNI Sudaryanto di Kodam IV/Diponegoro dapat menjadi bagian dari kesinambungan upaya memperkuat stabilitas, kolaborasi, dan kesiapsiagaan menghadapi tantangan keamanan. Dengan dukungan koordinasi lintas sektor dan pemahaman yang baik terhadap kondisi masyarakat, pelaksanaan tugas keamanan diharapkan dapat berlangsung secara profesional, proporsional, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Rekam Jejak Mayjen TNI Sudaryanto: Dari Satuan Operasi hingga Kepemimpinan Strategis
Mayjen TNI Sudaryanto merupakan perwira tinggi TNI Angkatan Darat lulusan Akademi Militer tahun 1993 dari kecabangan Infanteri. Perjalanan kariernya memperlihatkan pengalaman dalam beberapa lingkungan penugasan, mulai dari satuan operasi khusus hingga jabatan strategis di lingkungan pertahanan dan penanggulangan terorisme.
Pada tahap awal kariernya, Mayjen TNI Sudaryanto tercatat pernah bertugas di lingkungan Satuan 81/Gultor Kopassus. Penugasan dalam satuan yang memiliki spesialisasi kemampuan khusus menempatkannya pada lingkungan kerja yang menuntut disiplin tinggi, kesiapan operasional, ketepatan dalam mengambil keputusan, serta kemampuan bekerja dalam organisasi dengan standar profesional yang ketat. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pembentukan karier militernya.
Ia kemudian mengemban sejumlah penugasan di lingkungan Kopassus, termasuk sebagai Komandan Batalyon dan dalam fungsi pembinaan serta pendidikan. Pengalaman sebagai komandan satuan dan pejabat di lembaga pendidikan militer memberikan dimensi berbeda dalam perjalanan kariernya: tidak hanya terkait pelaksanaan tugas operasional, tetapi juga pembinaan personel, pengembangan kemampuan prajurit, dan pemeliharaan kesiapan organisasi.
Pada periode berikutnya, Mayjen TNI Sudaryanto dipercaya mengemban jabatan Komandan Grup 1/Para Komando Kopassus. Pengalaman memimpin satuan menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum memasuki penugasan di lingkungan komando kewilayahan dan lembaga pertahanan. Seperti halnya jabatan komando lainnya, tanggung jawab pada tingkat tersebut menuntut pengelolaan personel, kesiapan satuan, serta kemampuan menerjemahkan arahan organisasi ke dalam pelaksanaan tugas.
Kariernya berlanjut ke lingkungan Kodam III/Siliwangi, antara lain melalui jabatan Komandan Rindam III/Siliwangi. Penugasan tersebut memperluas pengalaman Mayjen TNI Sudaryanto dalam pembinaan dan pendidikan militer. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya di lingkungan Kodam V/Brawijaya. Pengalaman di komando kewilayahan mempertemukan tugas militer dengan kebutuhan koordinasi bersama pemerintah daerah, aparat keamanan lainnya, dan berbagai unsur masyarakat sesuai tugas serta kewenangan masing-masing.
Mayjen TNI Sudaryanto juga tercatat pernah bertugas sebagai Kepala Staf Korem 173/Praja Vira Braja di lingkungan Kodam XVII/Cenderawasih. Pengalaman tersebut menambah cakupan penugasannya di lingkungan komando kewilayahan yang memiliki karakteristik wilayah dan dinamika sosial tersendiri.
Dalam perkembangan karier berikutnya, Mayjen TNI Sudaryanto dipercaya mengemban jabatan Kepala Pusat Pengelolaan Kawasan Badan Instalasi Strategis Pertahanan (Bainstrahan) Kementerian Pertahanan. Penugasan tersebut menempatkannya dalam lingkungan pengelolaan kawasan yang berkaitan dengan kepentingan strategis pertahanan negara.
Pada 2025, Mayjen TNI Sudaryanto dilantik sebagai Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT. Penugasan ini menandai keterlibatannya dalam bidang yang menempatkan pencegahan terorisme, perlindungan masyarakat, dan deradikalisasi sebagai bagian dari agenda penanggulangan terorisme nasional. Lingkungan kerja tersebut memiliki karakter lintas sektor dan membutuhkan koordinasi dengan beragam pemangku kepentingan.
Pada Oktober 2026, Mayjen TNI Sudaryanto \dipercaya mengemban jabatan Panglima Kodam IV/Diponegoro. Penugasan ini menempatkannya pada posisi kepemimpinan komando kewilayahan yang menuntut kemampuan mengelola organisasi, menjaga kesiapan satuan, dan membangun koordinasi sesuai tugas TNI Angkatan Darat di wilayah tanggung jawabnya.
Secara keseluruhan, perjalanan karier Mayjen TNI Sudaryanto memperlihatkan lintasan pengalaman yang mencakup satuan operasi khusus, pembinaan dan pendidikan militer, komando kewilayahan, pengelolaan kawasan pertahanan, serta pencegahan terorisme. Keberagaman pengalaman itu menjadi konteks utama apresiasi Funco Tanipu terhadap rekam jejaknya.
Bagi Funco, nilai penting dari perjalanan tersebut terletak pada peluang untuk mengintegrasikan pengalaman operasional, pemahaman kelembagaan, dan perspektif pencegahan dalam pelaksanaan tugas kepemimpinan. Ia berharap bekal tersebut dapat terus memperkuat sinergi keamanan di Kodam IV/Diponegoro, sekaligus mendorong kolaborasi yang profesional, terukur, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
